Siapa Cilia Flores, Istri Maduro yang Ikut Ditangkap Militer AS?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Venezuela menjadi perhatian dunia, akhir pekan ini. Di luar dugaan, Presiden AS Donald Trump ternyata merealisasikan ancaman untuk menyerang negara kaya minyak itu. Dan, operasi militer AS tak hanya menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, tapi juga istrinya, Cilia Flores. Tak heran, kemudian banyak yang bertanya-tanya, siapa sebenarnya istri Maduro ini, dan bagaimana kiprahnya di kancah politik Venezuela.
Baca Juga
Trump Akan Putuskan Masa Depan Venezuela Setelah Penangkapan Maduro
Dilansir CNN, Cilia Flores ditangkap bersama Maduro pada Sabtu dini hari. Istri sekaligus penasihat utama Maduro itu diseret keluar dari kamar tidur bersama sang suami oleh pasukan AS. Pasangan itu dengan cepat dibawa keluar dari negara tersebut untuk menghadapi persidangan atas dakwaan perdagangan narkoba di Amerika Serikat.
“Cilita,” demikian Maduro memanggilnya, menjabat sebagai ibu negara selama lebih dari satu dekade — meskipun dalam jargon resmi gerakan sosialis Chavismo, ia disebut sebagai “pejuang pertama” (first combatant). Ia telah menjadi pasangan Maduro selama lebih dari 30 tahun, periode di mana ia membangun modal politiknya sendiri dan dianggap sebagai salah satu perempuan paling berkuasa di Venezuela.
Cilia Flores, lahir pada 1956 di kota Tinaquillo, Venezuela bagian tengah, tumbuh besar di lingkungan kelas pekerja di wilayah barat Caracas. Ia bertemu Maduro — yang kerap menekankan asal-usul sederhananya — pada masa awal gerakan Chavista. Seorang pengacara spesialis hukum perburuhan dan pidana, Flores memberikan bantuan hukum kepada Hugo Chávez, tokoh utama gerakan tersebut, dan para perwira militer lain yang ditangkap setelah upaya kudeta terhadap Presiden Carlos Andrés Pérez pada 1992. Maduro sendiri juga berkampanye untuk pembebasan Chávez dan menjadi bagian dari tim pengamanan Chávez saat masih berpangkat letnan kolonel.
“Dalam perjuangan untuk pembebasan Chávez itu, kami terlibat dalam aktivitas jalanan. Saya selalu ingat sebuah pertemuan di Catia, dan ketika seorang pemuda meminta bicara, ia berbicara, dan saya hanya menatapnya. Saya berkata, ‘Betapa cerdasnya,’” kenang Flores pada November 2023, dalam episode pertama podcast Maduro.
Sejak saat itu, keduanya tak terpisahkan, namun Flores menempuh jalur politiknya sendiri. Ia terpilih untuk pertama kalinya sebagai anggota Majelis Nasional pada 2000, setahun setelah Chávez terpilih sebagai presiden. Ia kembali meraih kursi pada 2005, dan setahun kemudian menjadi perempuan pertama yang memimpin parlemen, menggantikan Maduro yang ditunjuk sebagai menteri luar negeri Chávez.
Selama masa jabatannya, ia melarang jurnalis memasuki ruang sidang legislatif. Ia juga dikritik karena mempekerjakan puluhan kerabat sebagai staf parlemen. Dalam wawancara dengan surat kabar Spanyol La Vanguardia, Flores mengatakan keluhan tersebut tidak pernah diajukan secara resmi dan merupakan kampanye fitnah, namun ia mengonfirmasi perekrutan itu. “Ya, anggota keluarga saya direkrut berdasarkan kemampuan mereka sendiri; saya bangga kepada mereka dan akan membela pekerjaan mereka kapan pun diperlukan,” katanya.
Baca Juga
Loyalis Chávez
Antara 2009 dan 2011, Flores juga menjabat sebagai wakil ketua kedua Partai Sosialis Bersatu Venezuela, yang saat itu dipimpin Chávez. Pada 2012, Chávez menunjuk Flores sebagai jaksa agung.
Bersama Maduro, yang saat itu sudah menjabat wakil presiden, ia mengunjungi Chávez di Kuba, tempat sang pemimpin dirawat karena kanker pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Profil Twitter Flores saat dibuat pada 2015 berbunyi “Putri Chávez”, meski beberapa tahun kemudian diubah menjadi “Chavista”.
Flores dan Maduro, yang bertemu setelah Chávez menyerah pasca-kudeta gagal 1992, menikah pada Juli 2013, setelah dua dekade bersama dan tak lama setelah kemenangan Maduro dalam pemilu presiden melawan kandidat oposisi Henrique Capriles.
“Ia memiliki latar belakang politik yang signifikan. Ketika menjadi ibu negara, ia mengambil posisi di belakang layar. Namun bagi banyak orang, ia adalah kekuatan di balik takhta atau penasihat utama,” kata Carmen Arteaga, doktor ilmu politik dan profesor madya di Universitas Simón Bolívar, kepada CNN, dilansir Minggu (4/12/2026).
“Ketika mereka menikah, ia menurunkan profilnya secara signifikan. Ia hampir tidak membuat pernyataan publik, tidak berebut perhatian, dan memilih mundur selangkah,” tambahnya.
Menurut Arteaga, dukungan dan nasihat Flores sangat krusial selama tahun-tahun ketika Chavismo dilanda perselisihan internal soal suksesi Chávez. Maduro, yang ditunjuk langsung oleh Chávez, masih harus mengonsolidasikan kekuasaannya atas tokoh-tokoh penting lain seperti Rafael Ramírez, mantan presiden PDVSA dan menteri energi, anggota parlemen Diosdado Cabello, atau Wakil Presiden Elías Jaua.
Dalam lingkaran tersebut, hanya sedikit perempuan yang menduduki posisi tinggi. Bagi Arteaga, “tidak diragukan” bahwa Flores adalah perempuan paling berkuasa di Venezuela, setidaknya selama Chavismo tetap berkuasa.
Kekuasaan di Balik Layar
Ilmuwan politik Estefanía Reyes mengatakan sulit mengukur kekuatan Flores karena ia menjalankannya “di balik layar” dan tidak terlembagakan. “Berbahaya jika kita tidak memahami dinamika pengambilan keputusan, karena hal itu menyulitkan akuntabilitas dan transparansi terkait pengaruh,” katanya. Jika pernah ada kepemimpinan ganda, hal itu tidak pernah diformalkan, berbeda dengan Nikaragua di bawah Presiden Daniel Ortega dan istrinya, Wakil Presiden Rosario Murillo.
Reyes juga menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir Flores tampil sebagai figur pendukung dengan citra keibuan untuk mendekatkan diri kepada publik, bukan sebagai figur kompetisi elektoral. “Chavismo menginstrumentalisasi peran ibu. Secara simbolik, ia tetap terikat pada batasan gender,” kata Reyes, profesor asist en di Western University, Kanada.
Selama bertahun-tahun, jabatan ibu negara tidak digunakan di Venezuela karena Chávez telah bercerai. Ketika Maduro berkuasa, ia menyebut Flores sebagai “pejuang pertama”, dengan alasan bahwa istilah “ibu negara” adalah konsep aristokrat.
Meski demikian, Reyes mencatat bahwa secara fungsi, posisi tersebut tetap dikaitkan dengan isu perlindungan anak dan organisasi amal, sebagaimana di negara lain. Hal ini diamini oleh ilmuwan politik Nastassja Rojas dari Universitas Javeriana, Kolombia. “Chavismo mengkhianati semua kritik mereka sendiri dengan menampilkan dia sebagai pejuang pertama. Yang ia proyeksikan sekarang adalah sosok pasangan presiden yang selalu mendampingi. Dalam beberapa tahun terakhir, profilnya benar-benar berubah,” katanya.
Keponakan Dihukum di AS
Dengan semakin jarangnya tampil sejak pemerintahan Maduro berjalan, kehadiran publik Flores hampir terbatas pada program radio berjudul With Cilia in the Family.
Namanya kembali mencuat pada 2015 ketika dua keponakannya ditangkap atas tuduhan perdagangan narkoba oleh agen penyamar DEA di Haiti. Flores menyebutnya sebagai penculikan, namun keduanya diadili dan divonis bersalah di New York, serta dijatuhi hukuman 18 tahun penjara karena berkonspirasi mengimpor kokain ke AS. Mereka dibebaskan pada 2022 dalam pertukaran tahanan antara Caracas dan Washington.
Baca Juga
Jaksa Agung AS: Maduro dan Istri Akan Hadapi Dakwaan Narco-Terorisme di Pengadilan Amerika
Flores juga dikenai sanksi oleh Kanada pada 2018, bersama 13 pejabat lainnya, sehari setelah Organisasi Negara-Negara Amerika melaporkan bahwa pemerintahan Maduro telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Beberapa bulan kemudian, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi sendiri, dengan menyatakan bahwa Maduro “mengandalkan lingkaran dalamnya untuk tetap berkuasa”. Maduro merespons dengan mengatakan: “Jika ingin menyerang saya, serang saya. Jangan ganggu Cilia. Jangan ganggu keluarga. Jangan bersikap pengecut. Satu-satunya kejahatannya adalah menjadi istri saya.”
Saat itu, Flores telah kembali ke Istana Legislatif setelah terpilih sebagai anggota Majelis Konstituante pada 2017 dan, pada 2021, sebagai anggota Majelis Nasional — posisi yang masih ia pegang saat ditangkap.
Figur yang Memecah Opini
Arteaga menyatakan Flores tidak dikenal sebagai pengusung agenda feminis, meskipun sosialisme mengklaim membela kelompok tertindas, termasuk perempuan. “Ia mengikuti agenda Chavista; ia tidak dikenal memiliki agenda feminis,” katanya.
Meski tidak setenar Maduro, Arteaga menilai Flores sama polarisasinya. “Saat ini, ia tidak populer; citranya sama dengan Maduro. Mereka bekerja sangat erat, dan opini publik melihat mereka sebagai satu entitas,” ujarnya.
Hal itu terlihat ketika pemerintah membagikan jutaan mainan Natal pada 2022, termasuk boneka “SuperBigote” yang terinspirasi dari Maduro, serta boneka “Cilita” sebagai tokoh pendamping dalam serial animasi.
Dalam kampanye pemilu presiden 2024 yang berujung pada kemenangan kembali Maduro yang disengketakan, Flores mendampingi suaminya di sejumlah acara, bahkan menari bersamanya di atas panggung.

