Sentuh Rekor Baru, Harga Emas Melonjak Hampir 70% Sepanjang 2025
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi baru pada Senin (22/12/2025). Kontrak berjangka emas untuk pengiriman Februari ditutup naik 1,9% ke US$4.469,40 per ons, setelah sempat menyentuh rekor US$4.477,7 per ons. Harga emas spot naik 1,99% ke US$4.440,26 per ons. Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melonjak hampir 70%.
Baca Juga
Logam mulia tersebut melonjak tajam tahun ini dan memecahkan rekor harga secara beruntun, seiring aset-aset berisiko kehilangan daya tarik. Emas umumnya dipandang sebagai aset safe haven pada masa ketidakpastian ekonomi atau geopolitik.
Harga perak yang biasanya mengikuti pergerakan emas juga mencetak rekor baru di US$68,96 per ons, sementara harga spot perak terakhir diperdagangkan di US$68,98 per ons. Sejak awal tahun, harga perak telah melonjak 128%.
Di Amerika Serikat, saham-saham perusahaan tambang emas dan perak yang tercatat di bursa menguat pada perdagangan pra-pasar. ETF iShares MSCI Global Gold Miners terakhir tercatat naik hampir 2,7%.
Meski pasar telah menerima pemangkasan suku bunga yang telah lama dinantikan dari Federal Reserve pada 10 Desember, serta kembalinya optimisme pada saham-saham AI pada sesi perdagangan sebelumnya, spekulasi ekonomi untuk tahun depan tampaknya membuat investor global kembali bersikap defensif dalam menyeimbangkan portofolio mereka.
Akibat defisit fiskal yang besar di Amerika Serikat, Inggris, Eropa, serta semakin terlihat di Jepang dan China. Nilai moneter emas dapat dikatakan telah kembali, menurut Matthew McLennan, kepala tim global value di First Eagle Investments, dalam wawancara dengan CNBC.
“Emas bergerak dari kondisi tertekan dibandingkan aset nominal yang biasanya digunakan sebagai lindung nilai, menuju valuasi yang lebih rasional. Dan saya pikir kompleks logam mulia lainnya mengikutinya naik dengan tingkat leverage tertentu,” urainya.
Investor juga mencermati persaingan untuk nominasi ketua Federal Reserve berikutnya, di tengah pertanyaan mengenai independensi dan kredibilitas bank sentral setelah tekanan berulang dari Presiden AS Donald Trump terhadap ketua saat ini, Jerome Powell.
“Yang sangat kami perhatikan adalah kredibilitas fiskal jangka panjang Amerika Serikat, karena menurut saya itu merupakan prasyarat untuk memiliki The Fed yang independen dan seorang ketua yang rasional,” tambah McLennan.
Baca Juga
Inflasi AS Lebih Rendah dari Perkiraan, Buka Harapan Pelonggaran Kebijakan The Fed
Ia juga memantau inflasi upah. “Yang benar-benar akan menentukan ke depan adalah apakah lowongan pekerjaan, yang belakangan ini kembali meningkat, akan mengikuti kenaikan laba korporasi,” katanya.

