Bank Sentral Jepang Naikkan Suku Bunga ke Level Tertinggi dalam 30 Tahun
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Bank sentral Jepang pada Jumat (19/12/2025) menaikkan suku bunga jangka pendek ke level tertinggi dalam tiga dekade, melanjutkan langkah normalisasi kebijakan seiring inflasi bertahan di atas target selama hampir empat tahun.
Baca Juga
Inflasi Inti Jepang Oktober Melonjak ke Level Tertinggi 3 Bulan, Dorong Kenaikan Suku Bunga BOJ
Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%, level tertinggi sejak 1995, sesuai dengan ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters.
BOJ menyatakan suku bunga riil diperkirakan tetap “sangat negatif,” seraya menambahkan bahwa kondisi keuangan yang akomodatif akan terus mendukung aktivitas ekonomi secara kuat.
Usai keputusan tersebut, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun menembus level 2% untuk pertama kalinya sejak 2006, sementara yen melemah 0,20% menjadi 155,79 per dolar AS. Indeks saham acuan Nikkei 225 naik 1,21%.
Jepang memulai normalisasi kebijakan tahun lalu dengan meninggalkan rezim suku bunga negatif satu-satunya di dunia yang telah berlaku sejak 2016. Sejak saat itu, BOJ secara konsisten menegaskan sikapnya untuk menaikkan suku bunga secara bertahap dengan tujuan menciptakan “siklus kebajikan” antara kenaikan upah dan harga.
Inflasi telah berada di atas target BOJ sebesar 2% selama 44 bulan berturut-turut. Data yang dirilis sebelumnya menunjukkan inflasi konsumen mencapai 2,9% pada November. Inflasi tinggi tersebut menekan upah riil yang telah turun selama 10 bulan berturut-turut, menurut data kementerian tenaga kerja.
BOJ memproyeksikan inflasi inti — yang mengecualikan harga pangan segar — kemungkinan melambat di bawah 2% pada periode April hingga September 2026, seiring perlambatan kenaikan harga pangan dan dampak kebijakan pemerintah untuk meredam tekanan harga.
Baca Juga
Pasar Asia-Pasifik Melemah, Nikkei 225 Jatuh Jelang Keputusan Bank Sentral Jepang
Suku bunga yang lebih tinggi berisiko memperburuk perlambatan ekonomi Jepang. Revisi data produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga menunjukkan kontraksi lebih dalam dari perkiraan awal, yakni turun 0,6% secara kuartalan dan 2,3% secara tahunan.
Meski demikian, BOJ menyatakan bahwa laba korporasi diperkirakan tetap tinggi dan perusahaan akan terus menaikkan upah pada 2026.
“Sangat mungkin bahwa mekanisme di mana upah dan harga naik secara moderat akan dipertahankan,” demikian disebutkan bank sentral, seperti dikutip CNBC. Ditambahkan, kemungkinan inflasi inti mencapai target 2% semakin meningkat.
Rasio Utang
Kenaikan suku bunga ini terjadi saat imbal hasil JGB berada di level tertinggi dalam beberapa dekade, meningkatkan risiko biaya pinjaman yang lebih tinggi dan tekanan fiskal. Jepang saat ini memiliki rasio utang terhadap PDB tertinggi di dunia, mendekati 230%, menurut Dana Moneter Internasional.
Kenaikan imbal hasil berpotensi menopang nilai yen, yang telah bergerak di kisaran 154–157 per dolar AS sejak November, setelah melemah lebih dari 2,5% sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi yang cenderung pro-pelonggaran moneter menjabat pada Oktober.

