Bank Sentral Norwegia Naikkan Suku Bunga, Bursa Eropa Melemah di Tengah Ketidakpastian Konflik Iran
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan Kamis (7/5/2026) seiring investor menunggu perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang mengguncang Timur Tengah.
Baca Juga
Bursa Eropa Reli Tajam, Harapan Damai AS-Iran Picu Optimisme Pasar
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup turun lebih dari 1%, berbalik arah setelah sempat menguat pada awal sesi. Bursa utama di London, Paris, Frankfurt, dan Milan seluruhnya berakhir di zona merah. Indeks FTSE 100 Inggris mencatat penurunan paling tajam dengan koreksi 1,6%.
Sentimen pasar turut dibayangi langkah bank sentral Norwegia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,25%. Kebijakan itu menjadikan Norwegia sebagai bank sentral besar pertama yang kembali memperketat moneter sejak perang Iran memicu kekhawatiran inflasi global.
Gubernur Norges Bank, Ida Wolden Bache, mengatakan inflasi masih berada di level terlalu tinggi dan telah melampaui target selama beberapa tahun terakhir.
“Prospek kebijakan moneter secara umum tidak banyak berubah sejak Maret, namun perang di Timur Tengah masih menciptakan ketidakpastian besar terhadap outlook ekonomi,” ujarnya.
Di sektor korporasi, raksasa energi Inggris Shell melaporkan laba kuartal pertama yang melampaui ekspektasi analis. Lonjakan harga energi akibat perang Iran membantu perusahaan membukukan adjusted earnings sebesar US$6,92 miliar, lebih tinggi dibanding konsensus analis LSEG sebesar US$6,1 miliar.
Meski demikian, saham Shell justru ditutup turun 2,9% setelah perusahaan memangkas nilai program buyback saham berikutnya.
Sementara itu, perusahaan pelayaran global Maersk mencatat EBITDA sebesar US$1,75 miliar pada kuartal pertama 2026, turun 35% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut masih sesuai dengan estimasi pasar.
CEO Maersk Vincent Clerc menyebut perang Timur Tengah sebagai “wake up call baru” bagi perdagangan global. Saham perusahaan asal Denmark tersebut anjlok 9,9% pada perdagangan Kamis.
Pergerakan pasar Eropa cenderung hati-hati setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan dengan Iran belum final. Trump juga mengancam akan kembali melancarkan serangan militer jika Teheran menolak proposal Washington.
Baca Juga
Trump Ancam Iran dengan Serangan yang Lebih Besar Jika Negosiasi Gagal
“Jika mereka tidak setuju, pengeboman akan dimulai kembali dengan level dan intensitas yang jauh lebih besar,” tulis Trump melalui Truth Social.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan Teheran masih mengevaluasi proposal damai dari AS.
Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Israel melancarkan serangan ke Beirut, Lebanon, untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata rapuh dengan Hizbullah disepakati pada 16 April lalu.
Di Inggris, jutaan warga juga mengikuti pemilu lokal yang dinilai menjadi ujian besar pertama bagi pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer sejak pemilu nasional Juli 2024. Partai Buruh diperkirakan menghadapi kehilangan suara signifikan di berbagai wilayah.

