Korban Kebakaran Hong Kong Tembus 146 Jiwa, Penyelidikan Mengarah ke Kelalaian Konstruksi
Poin Penting
• Korban tewas meningkat menjadi 146, sementara puluhan lainnya masih hilang dan proses identifikasi berlangsung.
• Perancah bambu dan material renovasi dinilai mempercepat penyebaran api yang melalap tujuh dari delapan blok hunian.
• Pemerintah menetapkan tiga hari masa berkabung dan menahan tiga pejabat konstruksi atas dugaan kelalaian yang berujung kematian.
• Operasi pemulihan memasuki hari kelima, dengan lebih dari 800 warga dievakuasi dan pencarian korban terus dilakukan.
HONG KONG, investortrust.id — Hong Kong memasuki masa berkabung tiga hari pada akhir pekan. Jumlah korban tewas akibat kebakaran dahsyat di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, melonjak menjadi 146 orang, menjadikannya tragedi paling mematikan dalam lebih dari 1 dekade. Ribuan warga terlihat mengantre di lokasi kejadian, di Central, serta di berbagai balai di penjuru kota untuk menuliskan pesan belasungkawa, berdoa, dan meletakkan bunga bagi para korban.
Dilansir SCMP News, unit verifikasi kepolisian menemukan 18 jenazah tambahan pada Minggu (30/11/2025), lima hari setelah api pertama kali dilaporkan pada pukul 2 siang waktu setempat.
Sebelumnya, dilaporkan angka kematian 128 pada Sabtu. Polisi mengonfirmasi bahwa 159 orang yang sebelumnya dinyatakan hilang berada dalam kondisi selamat, sementara proses identifikasi jenazah terus berjalan. Namun sekitar 40 orang masih tercatat hilang, dan hampir 100 laporan orang hilang belum dapat dipastikan karena data pelapor tidak lengkap atau individu dilaporkan bukan penghuni kompleks tersebut.
Kepala unit verifikasi korban, Tsang Shuk-yin, mengatakan total korban luka mencapai 79 orang, termasuk 12 petugas pemadam kebakaran. Otoritas memperingatkan bahwa angka kematian masih dapat bertambah seiring ditemukannya lebih banyak jasad di area yang belum dapat diakses.
Api Menyebar Cepat
Kompleks Wang Fuk Court, yang memiliki lebih dari 1.900 unit dan dihuni sekitar 4.000 orang, sedang menjalani renovasi sejak Juli 2024. Seluruh delapan menara tertutup perancah bambu dan jaring plastik hijau—struktur tradisional yang ringan namun mudah terbakar.
Penyelidikan awal menyebut bahwa styrofoam dan material renovasi lainnya, termasuk lembaran plastik penutup jendela, mempercepat penyebaran api yang melalap beberapa lantai hanya dalam hitungan menit. Asap hitam pekat membubung tinggi saat api menjalar ke tujuh dari delapan blok hunian.
Tragedi ini menjadi kebakaran pertama dalam 17 tahun terakhir yang mencapai status No. 5 alarm, kategori tertinggi dalam sistem penanganan bencana Hong Kong.
Penahanan Pejabat Konstruksi
Polisi menahan dua direktur dan satu konsultan teknik dari Prestige Construction & Engineering Company atas dugaan pembunuhan tidak berencana (manslaughter). Mereka diduga lalai dalam proses renovasi, termasuk penggunaan material yang sangat mudah terbakar di area padat hunian.
Lebih dari 800 warga dievakuasi ke hotel dan tempat tinggal sementara sejak Jumat. Proses pemulihan dan pencarian korban memasuki hari kelima.
Bendera nasional China dan bendera Hong Kong di seluruh gedung pemerintah—termasuk kantor perwakilan luar negeri—dikibarkan setengah tiang hingga Senin. Pemerintah pusat di Beijing memuji upaya penanganan darurat Hong Kong dan menyatakan dukungan penuh terhadap proses penyelidikan dan pemulihan.
Tragedi ini tidak hanya memicu duka nasional, tetapi juga membuka kembali diskusi lama mengenai standar keselamatan renovasi gedung di Hong Kong serta risiko penggunaan perancah bambu di lingkungan berpenduduk padat.

