Bagikan

Kebakaran Hebat di Kompleks Apartemen Hong Kong, Sedikitnya 44 Tewas, Ratusan Hilang

Poin Penting:

• Kebakaran besar di kompleks Wang Fuk Court menewaskan sedikitnya 44 orang dan membuat hampir 300 orang hilang, dengan dugaan penyebaran api dipicu perancah dan material busa yang tidak aman.

• Polisi menahan tiga orang dari perusahaan konstruksi atas dugaan kelalaian berat yang menyebabkan api meluas dan menimbulkan korban massal.

• Operasi pemadaman dan penyelamatan berlangsung lebih dari 15 jam, sementara ribuan penghuni dievakuasi dan ratusan mengungsi di tempat penampungan.

• Tragedi ini memicu kritik terhadap standar keselamatan bangunan Hong Kong dan memperuncing ketegangan publik menjelang pemilu legislatif awal Desember.

HONG KONG, investortrust.id - Jumlah korban tewas akibat kebakaran besar di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, dilaporkan 44 orang pada Kamis pagi (27/11/22025), sementara hampir 300 orang masih belum dapat dihubungi.

Kebakaran dahsyat yang terjadi pada Rabu sore itu terus berkobar sepanjang malam, dengan petugas pemadam menghadapi kesulitan mencapai lantai atas akibat panas ekstrem dan kepulan asap tebal.

Baca Juga

Penipuan Kripto Meningkat di Hong Kong, SFC Tuding Efek Samping Regulasi 'Stablecoin'

Otoritas Hong Kong menyebut kebakaran kemungkinan besar menyebar cepat karena penggunaan perancah bambu tradisional, jaring pelindung bangunan, serta material busa yang dipasang oleh perusahaan konstruksi untuk keperluan renovasi. Polisi mengatakan menemukan sejumlah jendela di bangunan yang belum terkena api ditutup rapat menggunakan bahan busa yang berpotensi tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran.

“Kami memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa pihak perusahaan konstruksi menunjukkan kelalaian berat yang menyebabkan api menyebar tanpa kendali dan menimbulkan korban massal,” ujar Superintendent Eileen Chung, seperti dikutip CNBC. Polisi menangkap tiga orang dari perusahaan konstruksi tersebut—dua direktur dan satu konsultan teknik—atas dugaan pembunuhan tanpa rencana (manslaughter).

Hingga Kamis pagi, petugas telah mengendalikan api di empat dari delapan blok bangunan, sementara operasi pemadaman dan pencarian masih berlangsung di tiga blok lainnya lebih dari 15 jam setelah kebakaran terjadi. Rekaman video menunjukkan api masih menyala dari beberapa menara setinggi 32 lantai, disertai asap pekat yang membubung.

Seorang petugas pemadam termasuk di antara korban tewas, sementara 45 orang saat ini dirawat dalam kondisi kritis. Kebakaran ini menjadi yang paling mematikan di Hong Kong sejak Perang Dunia II, melampaui insiden tahun 1996 di Kowloon yang menewaskan 41 orang. Tragedi ini memicu perbandingan dengan kebakaran Grenfell Tower London pada 2017, yang memakan 72 korban jiwa akibat penggunaan cladding mudah terbakar dan kegagalan sistem keselamatan bangunan.

Korban Mengungsi

Lebih dari 279 orang dilaporkan belum dapat dihubungi dan sekitar 900 orang mengungsi ke delapan pusat penampungan. Beberapa warga yang selamat menggambarkan kekacauan saat kebakaran terjadi. Seorang pria lanjut usia berusia 71 tahun menangis mengatakan istrinya masih terjebak di dalam, sementara Harry Cheung, 66 tahun, menuturkan ia mendengar suara ledakan keras pukul 14.45 sebelum melihat api menyembur dari blok tetangga.

Konsulat Filipina mengatakan menerima laporan tidak terverifikasi bahwa sejumlah pekerja rumah tangga asal Filipina mungkin terperangkap dalam gedung yang terbakar dan sedang berkoordinasi dengan polisi untuk memastikan keselamatan warga negaranya.

Dari Beijing, Presiden China Xi Jinping menyerukan “upaya habis-habisan” untuk memadamkan api dan meminimalkan korban. Sementara itu, otoritas Hong Kong menutup sejumlah jalan, mengalihkan 39 rute bus, dan menutup sedikitnya enam sekolah pada Kamis akibat kebakaran dan kemacetan lalu lintas.

Baca Juga

China-Jepang Memanas, Beijing Kecam Pernyataan ‘Provokatif’ PM Takaichi soal Taiwan

Kebakaran ini juga menyoroti kembali isu keselamatan bangunan di kota dengan harga properti selangit itu. Pemerintah sebelumnya telah memulai fase penghapusan penggunaan perancah bambu sejak Maret 2024 setelah tercatat 22 kematian terkait pekerjaan perancah dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun risiko kebakaran tidak dijadikan alasan utama, setidaknya tiga kebakaran tahun ini telah melibatkan perancah bambu.

Wang Fuk Court sendiri merupakan kompleks perumahan yang dibangun pada 1983 di bawah skema kepemilikan rumah bersubsidi pemerintah. Kompleks ini sedang menjalani renovasi senilai HK$330 juta, dengan biaya per unit mencapai HK$160.000 hingga HK$180.000, menurut informasi publik.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024