Angola dan Ethiopia Minta Kerja Sama Pengembangan Pertanian di KTT G20
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengungkapkan bahwa sejumlah negara menunjukkan ketertarikan besar untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia melalui serangkaian pertemuan pull aside yang berlangsung di sela pelaksanaan KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025).
Pertemuan bilateral tersebut dihadiri oleh para pemimpin dan perwakilan tinggi dari berbagai negara, termasuk Perdana Menteri Ethiopia, Perdana Menteri Vietnam, Presiden Angola yang juga menjabat sebagai Chair African Union, Presiden Finlandia, Direktur Jenderal World Trade Organization, serta Sekretaris Jenderal UNCTAD.
Arrmanatha, yang akrab disapa Tata menjelaskan bahwa beberapa negara secara khusus meminta pertemuan dengan Indonesia, terutama negara-negara dari kawasan Afrika. Ia menyebut Angola sebagai salah satu negara yang ingin memperdalam hubungan ekonomi, khususnya dalam sektor pertanian.
“Yang menarik adalah beberapa negara Afrika yang sengaja ingin bertemu karena mereka ingin meningkatkan kerja sama ekonomi. Di sini hal-hal yang menjadi perhatian mereka justru untuk mendorong kerja sama di bidang seperti pertanian, agriculture,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara daring, bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wamenkeu Thomas Djiwandono.
Menurut Armanatha, Angola bahkan menyampaikan minat untuk belajar lebih jauh mengenai pengembangan industri pertanian, termasuk komoditas seperti kopi dan kelapa, yang dianggap relevan baik untuk kebutuhan mendasar maupun untuk pengembangan sektor ekonomi yang lebih maju.
Minat serupa juga datang dari Ethiopia. “Selain Angola, juga dari Etiopia yang meminta hal serupa,” kata Armanatha. Ia menambahkan bahwa sudah terdapat lima hingga enam perusahaan Indonesia yang beroperasi di Ethiopia, terutama pada sektor pertanian dan pengolahan minyak kelapa sawit, sehingga potensi kerja sama lanjutan dinilai sangat terbuka.
Baca Juga
Wapres Gibran Dorong Pertumbuhan Ekonomi yang Kuat dan Adil di KTT G20
Selain membahas kerja sama bilateral, Tata juga menyampaikan isu dinamika global yang mencuat dalam KTT G20 tahun ini.
Ia menjelaskan bahwa KTT G20 di Afrika Selatan menandai akhir estafet kepemimpinan Global South setelah sebelumnya dipegang Indonesia, India, dan Brasil. Menurutnya, Global South kini bukan hanya menjadi penonton, tetapi telah menjadi “co-driver” dalam tata kelola ekonomi global.
Hal itu tecermin dalam Leaders’ Declaration yang memuat berbagai isu penting bagi negara berkembang, mulai dari penanganan utang, pengurangan risiko bencana, hingga tantangan dalam sistem keuangan global.
Tata menekankan bahwa salah satu langkah penting yang diambil Presidensi G20 adalah melakukan review terhadap perjalanan G20 selama 20 tahun terakhir untuk mengidentifikasi kekuatan dan tantangan yang dapat menjadi acuan bagi presidensi berikutnya.
Ia juga memastikan bahwa pertemuan bilateral akan terus dilanjutkan untuk memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan negara-negara yang hadir dalam KTT. “Demikian yang dapat saya sampaikan, dan besok masih ada satu sesi lagi yang akan dihadiri oleh Bapak Wakil Presiden,” tuturnya.
