Perlambatan Ekonomi Makan Korban, Ethiopia Jadi Negara Afrika Pertama yang Default di Obligasi
JAKARTA, Investortrust.id - Ethiopia menjadi negara Afrika ketiga yang mengalami gagal bayar dalam tiga tahun terakhir setelah tidak dapat melakukan pembayaran kuponsebesar US$33 juta dari obligasi internasional satu-satunya yang dilansir pemerintah setempat.
Dilansir Reuters, Rabu (27/12/2023), negara terpadat kedua di Afrika ini secara resmi mengumumkan awal bulan ini bahwa pemerintahnya akan gagal bayar, setelah mengalami tekanan keuangan yang berat akibat pandemi Covid-19, dan perang saudara selama dua tahun yang baru berakhir pada November 2022 silam.
Pemerintah Ethiopia seharusnya melakukan pembayaran kupon obligasi negaranya pada 11 Desember, namun secara teknis mereka punya waktu hingga hari Selasa ini untuk menyediakan dana, menyusul adanya klausul grace periode selama 14 hari, seperti yang tertulis dalam prospektus obligasi senilai US$1 miliar tersebut.
Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, para pemegang obligasi belum menerima pembayaran kupon hingga Jumat 22 Desember 2023, hari kerja perbankan internasional terakhir sebelum grace periode berakhir.
Pejabat pemerintah Ethiopia tidak merespons permintaan komentar pada hari Jumat atau akhir pekan. Namun gagal bayar ini sudah diperkirakan sebelumnya dan akan membuat Ethiopia bergabung dengan dua negara Afrika lainnya, Zambia dan Ghana, yang saat ini menjalani program restrukturisasi penuh "Common Framework".
"Common Framework" atau Kerangka Kerja Bersama adalah inisiatif internasional yang bertujuan untuk memberikan bantuan dalam restrukturisasi utang bagi negara-negara yang mengalami kesulitan keuangan, terutama sebagai akibat dari dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19. Kerangka Kerja Bersama ini diprakarsai oleh G20 (Kelompok Negara-negara G20) dan didukung oleh Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan lembaga keuangan internasional lainnya.
Negara di Afrika Timur ini pertama kali meminta keringanan utang dalam inisiatif yang dipimpin oleh G20 pada awal 2021.
Progres awalnya terlaksananya keringanan tertunda oleh perang saudara, sementara cadangan devisa telah habis dan inflasi melonjak. Para kreditor resmi pemerintah Ethiopia, termasuk China akhirnya setuju dengan kesepakatan penundaan pembayaran utang pada November.
Selanjutnya pada 8 Desember 2023, pemerintah mengumumkan bahwa negosiasi paralel yang mereka lakukan dengan dana pensiun dan kreditor sektor swasta pemegang obligasinya mengalami kegagalan.
Badan pemeringkat kredit S&P Global pub menurunkan peringkat obligasi tersebut menjadi "Default" pada 15 Desember 2023, dengan asumsi bahwa pembayaran kupon tidak akan dilakukan.

