Bursa Asia Menguat, Indeks Kospi Korea Selatan Melonjak 3%
Poin Penting
|
TOKYO, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik menguat pada Senin (10/11/2025) setelah kekhawatiran atas valuasi saham-saham kecerdasan buatan (AI) mereda. Pekan lalu, indeks di kawasan melemah dipicu aksi jual besar-besaran.
Investor juga mencermati data inflasi Tiongkok untuk Oktober yang dirilis akhir pekan, menunjukkan hasil di atas perkiraan pasar. Inflasi konsumen utama naik 0,2% secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi nol pertumbuhan menurut jajak pendapat Reuters. Sementara itu, inflasi grosir mencatat penurunan 2,1%, lebih ringan dari proyeksi penurunan 2,2%.
Dikutip dari CNBC, indeks Kospi Korea Selatan ditutup naik 3,02% menjadi 4.073,24, dipimpin oleh saham-saham perbankan dan asuransi. Indeks Kosdaq untuk saham kapitalisasi kecil juga menguat 1,32% ke 888,35. Raksasa teknologi Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing mencatat kenaikan 2,76% dan 4,48%.
Baca Juga
Pasar Asia Menguat, Kospi Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi
Beberapa saham konglomerasi besar ikut menguat, termasuk SK Inc., perusahaan induk grup SK yang melonjak 9,29%, dan GS Holdings, grup besar dengan bisnis energi, ritel, dan konstruksi, yang naik 11,79%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 1,26% ke 50.911,76, sementara indeks Topix menguat 0,56% ke 3.317,42. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 1,7%, tertinggi sejak Oktober.
Risalah rapat Bank of Japan (BOJ) bulan Oktober menunjukkan kecenderungan bank sentral untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, dengan pernyataan bahwa “kondisi untuk langkah normalisasi suku bunga tampaknya hampir terpenuhi.” Namun, BOJ menekankan perlunya mengevaluasi sejauh mana tingkat inflasi dasar telah mengakar.
Indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,54%, CSI 300 Tiongkok daratan naik 0,17%, dan S&P/ASX 200 Australia menambah 0,75% menjadi 8.835,9. Di India, Nifty 50 dan Sensex masing-masing naik 0,54% dan 0,52%, dengan Lenskart—startup ritel kacamata yang didukung Softbank—mencatat debut pasar saham yang datar, hanya naik 1,36% dari harga IPO 402 rupee.
Di AS, Nasdaq Composite melemah pada Jumat lalu, tetapi Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 berbalik positif setelah Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer mengajukan proposal baru untuk mengakhiri penutupan pemerintahan yang memecahkan rekor.
Baca Juga
Bursa AS Bergejolak Tertekan Saham AI dan Data Ekonomi, Indeks Nasdaq Tergerus 3% dalam Sepekan
Survei Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS mendekati titik terendah sepanjang sejarah, hanya sehari setelah perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa pengumuman PHK pada Oktober mencapai level tertinggi dalam 22 tahun terakhir.

