Saat Jumat Agung Dirayakan Yerusalem, di Tengah Berkecamuknya Perang di Gaza
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah gejolak perang yang terjadi saat ini di Jalur Gaza, sebuah tradisi yang mengharukan dan tak lekang oleh waktu tetap digelar di jalan-jalan kuno Kota Tua Yerusalem, Perayaan Jumat Agung. Perayaan ini dilakukan oleh para peziarah dan pendeta Katolik, dan tradisi ini terus berlanjut bahkan di tengah tahun tragis 2024.
Ribuan orang dengan khidmat melintasi Via Dolorosa menuju Gereja Makam Suci, yang beberapa di antaranya memanggul salib kayu, sambil diiringi nyanyian dan himne, memperingati penderitaan Yesus Kristus.
Via Dolorosa, rute keagamaan di kota tua Yerusalem, menandai jalan Yesus menuju salib setelah penghakiman oleh Pontius Pilatus. Meskipun keaslian lokasi bersejarahnya masih diperdebatkan, signifikansinya sebagai tradisi kuno tidak pernah menjadi pertanyaan.
Menurut kalender Katolik, Pekan Suci tahun ini dimulai pada Minggu Palma, 24 Maret dan berakhir pada Minggu Paskah tannggal 31 Maret, dengan Jumat Agung dirayakan hari ini, Jumat (29/3/2024). Gereja Ortodoks yang menggunakan kalender Julian lama, merayakan Jumat Suci (Jumat Agung) pada tanggal 3 Mei mendatang, dengan perayaan Paskah jatuh pada hari Minggu, tanggal 5 Mei.
Tahun ini, hari Jumat Agung umat Kristiani dan hari raya Paskah Yahudi (Pesach) tidak dirayakan berbarengan, seperti yang kadang-kadang terjadi, karena "Tahun peralihan" atau "Ibbur Shana" dimasukkan ke dalam kalender Yahudi agar tetap konsisten.
Sekadar informasi, "Ibbur Shana" adalah frasa dalam bahasa Ibrani yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai "Tahun Transisi" atau "Tahun Peralihan." Konsep ini merujuk pada tahun tambahan yang terkadang ditambahkan dalam kalender Ibrani untuk menyelaraskan tahun-tahun lunisolar dengan tahun-tahun kalender Gregorian.
Kalender Ibrani adalah kalender lunisolar, yang berarti bahwa tahun-tahunnya dihitung berdasarkan gerakan Bulan dan Matahari. Dalam beberapa situasi, terutama ketika perhitungan waktu menjadi rumit atau tidak akurat, seperti dalam perhitungan waktu antara tahun-tahun kabisat dalam kalender Gregorian, sebuah tahun ekstra (Ibbur Shana) dapat dimasukkan dalam kalender Ibrani.
Dalam hukum Yahudi, tahun ini adalah tahun kabisat yang berarti ditambahkan bulan kedua Adar. Kalender Ibrani didasarkan pada siklus bulan dan peralihan tahun dirancang untuk menyesuaikannya dengan musim yang bergantung pada siklus matahari. Sehingga perayaan Paskah Yahudi tahun ini jatuh pada tanggal 22 – 29 April.
Bagi umat Kristiani di seluruh dunia, ibadah Jumat Agung dinilai sebagai perwujudan nyata dari pengabdian dan langkah mengingat peristiwa yang terjadi saat itu. Pentingnya hari ini semakin diperbesar dengan latar belakang konflik, ketika doa dipanjatkan untuk perdamaian di tengah perang yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas.
Di sepanjang rute Via Dolorosa di kota tua Yerusalem, para peziarah berhenti sejenak di tiap 14 tempat pemberhentian, melakukan ritual untuk memperingati peristiwa penderitaan pertama Kristus dan penyaliban-Nya.
Perjalanan dimulai dari Kompleks Pencambukan yang terlihat suram, di mana Yesus menghadapi penghukuman, hingga perjumpaan yang menyedihkan dengan Maria, Veronica, dan orang Kirene, ziarah ini dinilai sebagai sebuah tablo iman dan ketahanan yang pedih.
Perjalanan ini mencapai puncaknya di Gereja Makam Suci, tempat umat Katolik dan Kristen Ortodoks (dan bahkan beberapa Protestan) percaya bahwa Yesus dimakamkan sebelum kebangkitannya pada Minggu Paskah.
Di sini, di kawasan suci basilika kuno, Jalan Salib diakhiri dengan doa berkat yang dianugerahkan oleh Penjaga Tanah Suci, sebuah pengingat pentingnya ziarah ini.
Saat senja, liturgi khusus di basilika menampilkan kembali prosesi pemakaman Yesus, melestarikan adat istiadat penguburan kuno, yang merupakan pendahuluan dari Malam Paskah yang penuh sukacita dan janji kebangkitan.
Terakhir, ada kebaktian meditasi Jumat Agung di Garden Tomb untuk umat Protestan dan gereja serta denominasi reformasi lainnya. Garden Tomb adalah sebuah situs di Yerusalem yang diyakini oleh beberapa orang Kristen sebagai tempat pemakaman Yesus Kristus dan lokasi kebangkitan-Nya. Situs ini terletak di luar tembok Kota Lama Yerusalem, di dekat Bukit Zaitun dan berdekatan dengan Golgota, demikian dikutip dari Allisrael.com.

