Inggris, Kanada, dan Australia Resmi Akui Palestina sebagai Negara
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Inggris, Kanada, dan Australia pada Minggu (21/9/2025) secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara berdaulat. Pengakuan ini disampaikan hanya beberapa hari sebelum Sidang Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan menjadi penegasan langkah terkoordinasi sejumlah negara Barat untuk menghidupkan kembali solusi dua negara di tengah perang Gaza yang telah berlangsung hampir dua tahun.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan bahwa negaranya sejak hari Minggu telah resmi mengakui Palestina. “Mulai hari ini, Minggu 21 September 2025, Persemakmuran Australia secara resmi mengakui Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” ujarnya dalam pernyataan di media sosial X yang dikutip Anadolu, Minggu (21/9/2025). Ia menegaskan, dengan langkah ini Australia mengakui aspirasi sah dan lama rakyat Palestina untuk memiliki negara sendiri.
Kanada juga mengambil sikap serupa. Perdana Menteri Mark Carney mengumumkan pengakuan negaranya dengan harapan dapat membuka jalan bagi perdamaian yang berdasarkan pada dua negara yang hidup berdampingan. “Kanada mengakui negara Palestina pada hari Minggu meski mendapat penolakan dari Amerika Serikat, dengan harapan hal ini menjadi jalan menuju perdamaian,” katanya seperti dikutip ABCNews, Minggu (21/9/2025). Ia menambahkan, langkah ini juga mencerminkan kejengahan banyak negara Barat atas perang yang terus memanas di Gaza.
Di London, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya secara resmi mengakui Palestina. “Hari ini, untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian bagi rakyat Palestina dan Israel, serta solusi dua negara, Inggris secara resmi mengakui Negara Palestina,” ujarnya dalam sebuah pernyataan dikutip dailytrust.com. Starmer sebelumnya sudah memperingatkan pemerintah Israel agar menghentikan taktik kelaparan di Gaza dan membuka akses bantuan kemanusiaan, dengan ancaman bahwa kegagalan melakukannya akan mendorong Inggris mengakui Palestina.
Baca Juga
Bagi Palestina, pengakuan ini dianggap sebagai langkah bersejarah. Menteri Luar Negeri Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menyebut pengakuan dari Inggris, Kanada, dan Australia sebagai “langkah yang tidak bisa dibalikkan” yang mendekatkan Palestina pada kemerdekaan dan kedaulatan penuh. “Sekarang adalah waktunya. Besok adalah hari bersejarah yang perlu kita bangun. Ini bukan akhir, tetapi sebuah langkah maju yang harus diperkuat,” ujarnya di Ramallah. Ia menegaskan, “Pengakuan ini tentu bukan simbolis. Ini adalah langkah praktis, nyata, dan tidak dapat dibatalkan jika negara-negara benar-benar ingin menjaga solusi dua negara.”
Israel merespons keras pengakuan ini. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu baru-baru ini menyatakan bahwa “tidak akan pernah ada negara Palestina.” Beberapa pejabat Israel bahkan menilai langkah tersebut tidak relevan dan sama sekali tidak mengubah kondisi di lapangan. Mereka menegaskan negara Palestina hanya bisa lahir melalui perundingan langsung, meski pada kenyataannya pembangunan permukiman baru di Tepi Barat justru semakin memutus wilayah Palestina.
Sementara itu, Amerika Serikat juga mengecam keputusan ini. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, menyebut pengakuan Palestina sebagai “aksi politik yang kontraproduktif.” Menurut Washington, langkah tersebut hanya memperkuat kelompok militan Hamas dan memperburuk situasi keamanan. Namun, semakin banyak negara Barat yang kini menjauh dari posisi tradisional AS, menandai isolasi diplomatik Israel yang kian mendalam.
Sejumlah laporan internasional menyoroti skala kehancuran di Gaza. Perang yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 65.200 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sebuah Komisi Penyelidikan PBB pekan lalu menyimpulkan Israel telah melakukan genosida, sejalan dengan temuan Amnesty International dan dua lembaga hak asasi manusia di Israel.
Dalam situasi ini, Shahin menekankan bahwa tekanan politik terhadap Israel harus diperluas menjadi langkah ekonomi. “Hari ini, Gaza terbakar. Hari ini, Gaza hancur. Hari ini di Gaza, orang-orang dibunuh secara sistematis,” ujarnya sambil mendesak dunia internasional mengambil tindakan tegas untuk melindungi rakyat Palestina.
Prancis dan Arab Saudi telah memimpin upaya menghidupkan kembali momentum solusi dua negara, dengan beberapa negara lain diperkirakan akan mengikuti jejak Inggris, Kanada, dan Australia di Sidang Umum PBB. Meski upaya pengakuan penuh di PBB kemungkinan besar akan dihadang veto Amerika Serikat, pengamat menilai langkah negara-negara kunci Barat merupakan sinyal moral dan diplomatik yang penting. Hal ini menandai pergeseran besar dalam peta dukungan internasional bagi Palestina di tengah perang Gaza yang terus berkecamuk.

