Laba Industri Asing di China Naik, tapi BUMN Masih Tertekan
Poin Penting
- Laba industri Tiongkok turun 1,5% pada Juli.
- Secara kumulatif, laba perusahaan besar turun 1,7% pada Januari–Juli 2025.
- BUMN mencatat penurunan laba 7,5%, sementara perusahaan dengan investasi asing tumbuh 1,8%.
- Laba pertambangan anjlok 31,6%, sedangkan manufaktur dan utilitas meningkat masing-masing 4,8% dan 3,9%.
BEIJING, investortrust.id – Laba industri Tiongkok menunjukkan tanda-tanda membaik setelah mengalami tekanan panjang. Data Biro Statistik Nasional (NBS) pada Rabu (27/8/2025) mencatat penurunan laba hanya 1,5% pada Juli dibandingkan periode sama tahun lalu, laju penurunan paling lambat dalam lima bulan terakhir.
Baca Juga
Secara kumulatif, laba perusahaan industri besar masih turun 1,7% dalam tujuh bulan pertama tahun ini. Namun, tren perbaikan mulai terlihat seiring kebijakan Beijing menekan perang harga yang selama ini memangkas margin korporasi.
Performa antar sektor menunjukkan perbedaan signifikan. Perusahaan milik negara (BUMN) mencatat penurunan laba 7,5% pada Januari–Juli dibandingkan setahun sebelumnya. Sebaliknya, perusahaan dengan modal asing justru menikmati kenaikan laba 1,8%.
Baca Juga
Pertemuan Alaska Gagal Capai Kesepakatan, Trump Belum Tetapkan Sanksi Tarif untuk China
Di sisi lain, industri pertambangan mengalami pukulan berat dengan laba merosot 31,6% dari tahun lalu. Sebaliknya, sektor manufaktur berhasil mencatat pertumbuhan laba 4,8%, sementara industri utilitas seperti listrik, panas, gas, dan air naik 3,9%.
Yu Weining, ahli statistik NBS, menyebut perbaikan ini sebagai hasil dari kebijakan pemerintah yang mendorong pemulihan harga konsumen. “Upaya stabilisasi harga membantu meningkatkan profitabilitas perusahaan,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Investor kini menilai perbaikan margin ini dapat menjadi titik balik bagi industri Tiongkok, meski tantangan global—mulai dari permintaan ekspor yang lemah hingga ketegangan geopolitik—masih membayangi.

