Saham Intel Anjlok Usai Trump Desak Mundur CEO Interim Lip-Bu Tan
Poin Penting
|
NEWYORK, Investortrust.id - Di tengah gejolak industri semikonduktor, Intel Corp. kembali menjadi pusat turbulensi politik dan pasar. Pada 7 Agustus 2025, saham raksasa chip ini anjlok lebih dari 5% pada awal perdagangan, dipicu oleh desakan langsung Presiden Donald Trump agar CEO interim Intel, Lip-Bu Tan, segera mengundurkan diri.
Melalui akun Truth Social, Trump menyebut Tan “sangat memiliki konflik kepentingan” karena dugaan hubungan dengan perusahaan-perusahaan China, memperkuat kekhawatiran terkait keamanan nasional dan arah strategis Intel di tengah rivalitas teknologi AS–Tiongkok.
Ini bukan kali pertama Intel mengalami pergantian kepemimpinan dalam beberapa bulan terakhir. Tan menjabat sebagai CEO interim setelah Pat Gelsinger secara mendadak mundur pada Desember 2024, usai dewan direksi kehilangan keyakinan terhadap rencana pembenahannya.
Menurut laporan Reuters, Gelsinger dipaksa mundur setelah kurang dari empat tahun memimpin, dengan jabatan sementara dipegang dua eksekutif sambil mencari pemimpin tetap.
Seperti diberitakan Webpronews.com, yang dikutip Sabtu (9/8/2025), saham Intel sebelumnya sudah terpukul akibat kehilangan peluang di tengah ledakan AI dan persaingan ketat dari Nvidia.
Intervensi politik Trump memperburuk situasi, dengan presiden mengutip riwayat investasi Tan di perusahaan-perusahaan China yang terkait dengan Partai Komunis.
Baca Juga
Intel Pertimbangkan Hentikan Penjualan Teknologi Canggih Chip 18A, Mengapa?
“CEO Intel sangat memiliki konflik kepentingan dan harus mengundurkan diri segera,” tulis Trump, seperti dikutip Fortune.
Pernyataan ini mengguncang Wall Street, membuat saham Intel merosot ke sekitar US$ 19,77 per lembar sahamnya, mencerminkan kepekaan pasar terhadap risiko geopolitik.
Para analis menyoroti masalah Intel yang berlarut-larut: nilai pasarnya merosot dari US$ 175 miliar pada 2005 menjadi sekitar US$ 99 miliar pada 2025, berbanding terbalik dengan lonjakan nilai Nvidia.
Unggahan di X (dulu Twitter) menggambarkan pesimisme investor, bahkan memprediksi harga saham bisa saja melorot ke US$ 14 per lembar. Situasi ini memperparah catatan buruk Intel, termasuk pada 2024 saat perusahaan kehilangan hampir US$ 25 miliar hanya dalam satu hari, sebagaimana dilaporkan CNN Business terkait mundurnya Gelsinger.
Reaksi pasar yang cepat menunjukkan betapa retorika politik dapat memengaruhi saham teknologi. Menurut TASS, saham Intel anjlok lebih dari 5% setelah komentar Trump memunculkan keraguan terhadap masa depan perusahaan di bawah Tan, yang memiliki latar belakang kuat di dunia modal ventura dengan hubungan ke perusahaan yang bekerja sama dengan pihak China.
Kondisi ini terjadi saat Intel tengah berupaya mendapatkan insentif manufaktur domestik melalui CHIPS Act, sambil menghadapi sorotan atas rantai pasokan globalnya.
Sejumlah pihak di industri berpendapat, desakan Trump dapat memaksa dewan direksi Intel mengambil keputusan yang tergesa-gesa, dan berisiko mengacaukan upaya pemulihan.
CNBC melaporkan, perusahaan masih bergulat dengan kesalahan operasional, termasuk keterlambatan produksi chip canggih. Dengan posisi Tan kini terancam, spekulasi mencuat soal calon pengganti yang dianggap lebih selaras dengan prioritas kebijakan AS.
Kisruh ini juga menyoroti keterkaitan erat antara politik dan teknologi. Ancaman tarif dan fokus Trump pada “America First” di sektor semikonduktor berpotensi mengubah dinamika industri, menekan perusahaan agar memutus hubungan luar negeri. FinancialContent mencatat efek domino penurunan saham, dengan investor khawatir dana CHIPS Act bisa terancam jika instabilitas kepemimpinan berlanjut.
Bagi Intel, tantangan ke depan bukan sekadar menstabilkan harga saham, tetapi juga membangun kembali kepercayaan di tengah tekanan geopolitik. Seperti disorot salah satu akun analis di X, penurunan ke US$ 19,77 di tengah desakan mundur memicu “badai keamanan nasional”.

