Tak Terpengaruh Tekanan Trump, The Fed Kembali Pertahankan Suku Bunga
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Federal Reserve kembali mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% dalam keputusan rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terbaru yang terbelah 9-2, sekaligus memperlihatkan gesekan internal di tengah tekanan politik dari Presiden Donald Trump. Dua gubernur yang ditunjuk oleh Trump, Michelle Bowman dan Christopher Waller, menyatakan ketidaksetujuan karena menginginkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga
Sambangi Kantor The Fed, Trump Kritik Powell dan Soroti Proyek Renovasi Rp 40 Triliun
Dalam pernyataan resminya, Rabu (30/7/2025) waktu setempat, The Fed menyatakan bahwa pasar tenaga kerja masih solid dan inflasi tetap tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi menunjukkan perlambatan pada paruh pertama 2025. Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa belum ada keputusan soal arah kebijakan September mendatang, menandakan bank sentral tetap mengedepankan pendekatan berbasis data di tengah ketidakpastian outlook.
"Tingkat pengangguran tetap rendah, dan kondisi pasar tenaga kerja tetap solid. Inflasi masih agak tinggi," demikian pernyataan kebijakan The Fed setelah pertemuan FOMC. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50% untuk pertemuan kelima berturut-turut.
Pernyataan itu mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi “melambat pada paruh pertama tahun ini”, yang bisa memperkuat argumen untuk penurunan suku bunga di masa depan jika tren ini berlanjut. Namun, pernyataan itu juga menekankan bahwa “ketidakpastian tentang prospek ekonomi tetap tinggi”, dengan risiko terhadap target inflasi dan lapangan kerja The Fed, sebuah bahasa yang mencerminkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan sebelum tren inflasi dan pasar kerja menjadi lebih jelas.
Ketua The Fed Jerome Powell berhati-hati dalam menyampaikan bahwa semua opsi masih terbuka. “Kami belum membuat keputusan apa pun untuk bulan September,” katanya dalam konferensi pers, seperti dikutip Reuters. Powell mencatat bahwa kebijakan moneter saat ini berada pada tingkat “sedikit ketat” yang dianggap sesuai, meskipun sejumlah risiko terhadap prospek telah meningkat.
Pertemuan minggu ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun dua anggota Dewan Gubernur The Fed yang berbasis di Washington menyatakan ketidaksetujuan terhadap keputusan suku bunga di lembaga yang dikenal menjunjung tinggi konsensus. Kejadian ini diperkirakan akan memicu kembali perdebatan mengenai seberapa besar tekanan publik Trump terhadap lembaga independen tersebut memengaruhi proses pengambilan kebijakan.
Baca Juga
Baik Wakil Ketua Pengawasan Michelle Bowman maupun Gubernur Christopher Waller, yang disebut-sebut sebagai calon pengganti Powell saat masa jabatannya berakhir Mei tahun depan, merupakan figur pilihan Trump. Keduanya “lebih memilih untuk menurunkan kisaran target suku bunga federal sebesar seperempat poin persentase pada pertemuan ini,” menurut pernyataan kebijakan The Fed.
Powell, sosok bipartisan yang ditunjuk sebagai anggota Dewan oleh mantan Presiden Barack Obama dan kemudian diangkat menjadi Ketua oleh Trump, ikut memilih mempertahankan suku bunga. Tiga gubernur lain dan lima presiden bank regional The Fed yang memiliki hak suara FOMC juga memberikan suara senada. Sementara Gubernur Adriana Kugler absen dan tidak memberikan suara.
Biasanya, anggota FOMC yang menyatakan ketidaksetujuan akan mengeluarkan pernyataan tertulis pada Jumat setelah pertemuan The Fed.
Wait and See
Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada perdagangan sore setelah keputusan kebijakan The Fed, sementara pasar saham tampak menuju penutupan negatif. Pasar berjangka menurunkan peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya tanggal 16-17 September.
Data sejak pertemuan The Fed pada 17-18 Juni memberi sedikit alasan bagi para pembuat kebijakan untuk mengubah pendekatan terhadap suku bunga. Sejak pelantikan Trump pada 20 Januari muncul kekhawatiran bahwa tarif impor dan perubahan kebijakan lainnya dapat mendorong inflasi. Tingkat pengangguran masih rendah di angka 4,1%, dan data inflasi terbaru menunjukkan kenaikan harga yang lebih cepat pada beberapa barang impor — tren yang akan terus diamati dalam beberapa pekan ke depan.
Departemen Perdagangan AS sebelumnya pada Rabu melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal kedua rebound lebih tinggi dari perkiraan, namun sebagian besar peningkatan disebabkan oleh penurunan impor, sementara permintaan domestik tumbuh pada laju paling lambat dalam dua setengah tahun terakhir.
Trump secara terbuka mengkritik Powell karena tidak memangkas suku bunga demi menurunkan biaya pinjaman pemerintah, padahal hal itu berada di luar mandat utama The Fed yang ditetapkan oleh Kongres, yaitu menjaga stabilitas inflasi dan pencapaian lapangan kerja maksimal.

