The Fed Tahan Suku Bunga di 3,5%–3,75%, Powell Bertahan di Tengah Tekanan Politik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan menahan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%–3,75% dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar Rabu (29/04/2026) di Washington DC. Keputusan ini diambil di tengah ketidakpastian global yang meningkat, terutama akibat perang di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga energi. Laporan CNBC yang diperbarui pada 30 April 2026 menyebutkan keputusan tersebut diwarnai perbedaan tajam di internal The Fed, dengan hasil voting 8 berbanding 4, jumlah dissent terbanyak sejak 1992.
Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai rapat menyatakan akan tetap berada di Dewan Gubernur meskipun masa jabatannya sebagai ketua berakhir pada 15 Mei 2026. Ia mengaku awalnya berencana pensiun, namun tekanan hukum dan politik dalam beberapa bulan terakhir membuatnya memilih bertahan. Powell bahkan menyebut independensi The Fed kini “berada dalam risiko” akibat serangkaian serangan hukum yang disebutnya sebagai tindakan “tidak pernah terjadi sebelumnya”.
Baca Juga
Wall Street Melemah Terbebani Sentimen Energi dan The Fed, Dow Anjlok Lebih 250 Poin
Di sisi lain, dinamika politik turut memengaruhi arah kebijakan moneter AS. Presiden Donald Trump mendorong perubahan kepemimpinan dengan mengajukan Kevin Warsh sebagai pengganti Powell, yang kini telah lolos dari Komite Perbankan Senat untuk menuju tahap pemungutan suara final. Powell menegaskan dirinya tidak akan menjadi “shadow chair” dan akan tetap menghormati kepemimpinan baru, sembari menjaga independensi bank sentral.
Sejalan dengan itu, laporan lain dari Reuters pada 29 April 2026 menyoroti bahwa keputusan The Fed tidak terlepas dari tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi global. Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak signifikan, dengan Brent menembus sekitar US$119–US$120 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$106 per barel, seiring kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik Iran-AS dan potensi berlarutnya blokade di Selat Hormuz.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perpecahan Internal dan Tekanan Inflasi Akibat Perang Iran
Lonjakan harga energi ini memperumit dilema kebijakan The Fed. Di satu sisi, inflasi yang dipicu energi menuntut kehati-hatian dalam pelonggaran moneter. Di sisi lain, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global semakin meningkat. Dengan latar belakang tersebut, keputusan menahan suku bunga mencerminkan sikap wait and see di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi yang masih tinggi.
Dengan berakhirnya masa kepemimpinan Powell dan meningkatnya tekanan politik terhadap bank sentral, arah kebijakan moneter AS ke depan diperkirakan akan semakin kompleks. Kombinasi antara konflik geopolitik, lonjakan harga energi, dan dinamika politik domestik menjadikan peran The Fed semakin krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi global.

