Di Luar Dugaan, PMI Manufaktur Caixin China Ekspansi pada Juni
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id — PMI (Purchasing Manager’s Index) manufaktur China secara mengejutkan tumbuh ekspansif pada Juni, didorong oleh peningkatan pesanan ekspor menjelang berakhirnya masa tenggang tarif dari Amerika Serikat. Indeks PMI manufaktur versi swasta yang dirilis Caixin/S&P Global naik ke 50,4, menandai kembalinya ekspansi untuk pertama kalinya sejak awal tahun.
Pemulihan ini terutama terjadi di sektor produsen berorientasi ekspor, yang mempercepat pengiriman guna menghindari potensi kenaikan tarif setelah pertengahan Agustus. Namun, survei resmi pemerintah tetap mencatatkan kontraksi, memperlihatkan adanya perbedaan performa antara pelaku usaha besar dan sektor swasta ekspor.
Baca Juga
Di Atas Estimasi
Indeks PMI manufaktur Caixin naik ke 50,4, jauh di atas estimasi median Reuters di 49,0 dan melonjak dari posisi 48,3 di bulan Mei—kontraksi terdalam sejak September 2022.
Angka ini kontras dengan survei PMI resmi yang dirilis pemerintah sehari sebelumnya, yang menunjukkan manufaktur masih berada di wilayah kontraksi selama tiga bulan berturut-turut, meski dengan perbaikan tipis.
Baca Juga
Aktivitas Manufaktur China Masih Kontraksi, Ancaman Deflasi Membayangi
Menurut Goldman Sachs, dikutip dari CNBC, Selasa (1/7/2025), perbedaan ini disebabkan cakupan survey. PMI resmi mencakup lebih dari 3.000 perusahaan besar dan mencerminkan output industri secara luas, sedangkan survei Caixin menyasar sekitar 500 perusahaan, mayoritas berorientasi ekspor. Selain itu, waktu pengumpulan data pun berbeda, dengan PMI resmi diambil akhir bulan dan Caixin di pertengahan bulan.
Survei Caixin mencatat bahwa baik sisi pasokan maupun permintaan manufaktur kembali tumbuh pada Juni, dengan output meningkat pada laju tercepat sejak November. Namun, kenaikan total pesanan ekspor masih tergolong tipis.
Analis EIU, Tianchen Xu, mengatakan bahwa rebound PMI Caixin terutama ditopang oleh peningkatan pesanan ekspor setelah gencatan tarif diberlakukan, yang mendorong produksi. Ia menilai, baik data resmi maupun Caixin sama-sama mengindikasikan pemulihan sektor manufaktur.
Meski tekanan meningkat agar Beijing mengekang kapasitas berlebih, sektor manufaktur masih menyumbang sekitar 26% dari PDB China pada kuartal pertama 2025, menurut data resmi yang dikutip Caixin.
Banyak eksportir China mempercepat pengiriman barang guna menghindari lonjakan tarif AS setelah masa tenggang 90 hari berakhir pertengahan Agustus. Sejauh ini, pengalihan ekspor ke pasar Asia Tenggara dan Uni Eropa membantu menjaga stabilitas total ekspor, meski pengiriman ke AS anjlok masing-masing 34,5% dan 21% pada Mei dan April secara tahunan.
Namun, para ekonom Morgan Stanley mencatat bahwa momentum ekspor mulai melambat dalam beberapa pekan terakhir karena strategi front-loading (pengiriman dipercepat) mulai menurun.
Sementara itu, tim riset Nomura memperingatkan bahwa ketegangan dagang AS-China berdampak lebih besar pada eksportir skala kecil, yang kurang mampu menyerap beban tarif tinggi meski ada gencatan.
Di sisi lain, sinyal positif muncul dari potensi penyelesaian sengketa fentanyl antara Beijing dan Washington, yang dapat membuka jalan bagi pencabutan tarif 20% terkait fentanyl oleh AS terhadap barang-barang China, menurut ekonom Evercore ISI Neo Wang.
Bulan lalu, China menambahkan dua prekursor fentanyl ke daftar zat terkontrol, setelah pertemuan langka antara Duta Besar AS David Perdue dan Menteri Keamanan Publik China Wang Xiaohong. Dalam pernyataannya, Beijing menyatakan siap bekerja sama dengan Washington untuk pengendalian narkotika.

