Melonjak, PMI Manufaktur Caixin China Februari Capai 50,8
BEIJING, investortrust.id - Aktivitas pabrik China berkembang pada laju tercepat dalam tiga bulan terakhir, mencapai 50,8 pada Februari, menurut survei sektor swasta yang dirilis pada Senin (03/03/2025).
Peningkatan ini terjadi seiring kembalinya jutaan pekerja migran setelah libur panjang Tahun Baru Imlek.
Baca Juga
Seperti dilansir CNBC, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Caixin/S&P Global, yang telah disesuaikan secara musiman, melampaui perkiraan jajak pendapat Reuters yang berada di 50,3. Angka ini meningkat dari 50,1 pada Januari dan 50,5 pada Desember lalu.
PMI manufaktur sektor swasta ini tetap berada di atas ambang batas 50, yang memisahkan ekspansi dari kontraksi, sejak Oktober tahun lalu.
Hasil survei swasta ini mengikuti data PMI manufaktur resmi yang dirilis pada Sabtu, yang juga menunjukkan bahwa aktivitas pabrik China pada Februari tumbuh di laju tercepat sejak November.
Menurut Biro Statistik Nasional China, PMI resmi naik menjadi 50,2 pada Februari dari 49,1 pada Januari. PMI non-manufaktur, yang mencakup sektor jasa dan konstruksi, juga naik menjadi 50,4 dari 50,2 pada Januari.
Angka-angka ini muncul di tengah kekhawatiran para ekonom bahwa tarif baru AS dapat menekan aktivitas manufaktur China dan menghambat ekspor tahun ini, karena para eksportir bergegas mengirimkan barang mereka sebelum tarif mulai berlaku.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif tambahan 10% atas barang-barang China, di luar tarif 10% yang telah dikenakan pada 4 Februari.
Baca Juga
Trump Sebut Tarif Meksiko dan Kanada Akan Dimulai 4 Maret, Ada Tarif Tambahan 10% untuk China
Trump sebelumnya mengancam akan mengenakan tarif 60% terhadap China selama kampanye pemilihannya.
Tarif tambahan ini dijadwalkan berlaku pada 4 Maret, bertepatan dengan pertemuan tahunan penting di Beijing, di mana otoritas China diperkirakan akan mengumumkan target ekonomi serta kebijakan baru untuk mendukung pertumbuhan.
Kepemimpinan China diperkirakan akan mengakui adanya pelemahan signifikan dalam permintaan domestik, sambil mengungkapkan rincian yang sangat dinantikan mengenai stimulus fiskal guna menopang pertumbuhan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan.
Baca Juga
Pada hari Jumat, Kementerian Perdagangan China mendesak AS untuk segera melanjutkan negosiasi, sekaligus memperingatkan kemungkinan tindakan balasan.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengalami pertumbuhan yang lesu akibat lemahnya permintaan domestik dan kemerosotan berkepanjangan di sektor real estat, menjadikan ekspor sebagai pendorong utama pertumbuhan.

