Bank Sentral AS Mau Longgarkan Aturan Modal Bank, tapi Dua Gubernur The Fed Menentang
WASHINGTON, investortrust.id – Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, pada hari Rabu (25/6/2025) mengusulkan pelonggaran terhadap salah satu aturan modal utama yang menurut kalangan bank telah membatasi ruang gerak mereka dalam beroperasi. Namun, proposal ini memicu penolakan dari setidaknya dua pejabat The Fed yang menilai langkah tersebut dapat melemahkan mekanisme pengaman penting sistem keuangan.
Baca Juga
The Fed Abaikan Desakan Trump, Fokus pada Dampak Tarif terhadap Inflasi
Aturan yang dikenal sebagai enhanced supplementary leverage ratio (eSLR) ini mengatur jumlah dan kualitas modal yang harus dimiliki bank di neraca mereka. Regulasi ini muncul sebagai bagian dari upaya pasca-krisis keuangan untuk menjaga stabilitas bank-bank terbesar di Amerika Serikat.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, seiring membengkaknya cadangan bank dan meningkatnya kekhawatiran atas likuiditas pasar obligasi pemerintah AS (Treasury), para eksekutif Wall Street dan pejabat The Fed mulai mendorong pelonggaran regulasi tersebut. Aturan ini sebelumnya memperlakukan seluruh aset dengan risiko yang sama—termasuk obligasi pemerintah yang dianggap relatif aman.
"Lonjakan tajam dalam jumlah aset berisiko rendah dan relatif aman di neraca bank dalam dekade terakhir telah membuat rasio leverage ini menjadi semakin mengikat. Berdasarkan pengalaman ini, sudah saatnya kita meninjau kembali pendekatan awal kita," beber Ketua The Fed Jerome Powell dalam pernyataannya, seperti dikutip CNBC.
Proposal ini akan dibuka untuk komentar publik selama 60 hari.
Dalam rancangan awalnya, aturan baru ini akan menurunkan persyaratan modal inti bagi perusahaan induk bank besar sebesar 1,4%, atau sekitar US$13 miliar. Sementara itu, entitas anak perusahaan akan melihat penurunan yang lebih besar, yakni US$210 miliar, meskipun modal tersebut tetap berada di bawah pengawasan induk. Aturan ini berlaku seragam baik untuk bank global yang sistemiknya penting (G-SIBs) maupun anak perusahaan mereka.
Secara spesifik, aturan baru akan menurunkan rasio modal minimum dari 5% menjadi kisaran 3,5%-4,5%, dan untuk anak perusahaan dari sebelumnya 6% menjadi rentang yang sama.
Wakil Ketua The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman, dan Gubernur Christopher Waller, menyatakan dukungannya terhadap proposal ini.
Baca Juga
Pejabat The Fed Dukung Pemangkasan Suku Bunga pada Juli, Ini Syaratnya
"Proposal ini akan membantu membangun ketahanan pasar Treasury AS, mengurangi kemungkinan disfungsi pasar dan kebutuhan intervensi The Fed saat terjadi tekanan. Kita perlu proaktif mengatasi konsekuensi yang tidak diinginkan dari regulasi bank, termasuk ketatnya aturan eSLR, sambil memastikan kerangka kerjanya tetap mendukung stabilitas dan keamanan sistem keuangan," urai Bowman.
Namun, tidak semua anggota Dewan sepakat. Gubernur Adriana Kugler dan Michael Barr—mantan Wakil Ketua Pengawasan—menyatakan penolakan mereka.
“Bahkan jika intermediasi pasar Treasury meningkat di masa normal, proposal ini kecil kemungkinannya membantu saat masa krisis,” ujar Barr. “Pada akhirnya, bank-bank justru akan menggunakan pelonggaran ini untuk membagikan modal ke pemegang saham dan mengejar aktivitas berimbal hasil tertinggi, bukan memperluas keterlibatan mereka di pasar Treasury.”
Aturan leverage ini telah lama menuai kritik karena dianggap ‘menghukum’ bank yang memegang surat utang negara. Dalam dokumen resmi yang dirilis Rabu, The Fed menyebutkan bahwa revisi aturan ini selaras dengan standar Basel, yakni pedoman global untuk ketahanan bank.

