China Serukan Agar Perdagangan Tak Dijadikan Alat Tekanan Politik
TIANJIN, investortrust.id - Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang menyerukan agar perdagangan internasional tidak dijadikan alat tekanan politik atau isu keamanan. Dalam sambutannya di Konferensi Forum Ekonomi Dunia di China, Rabu (25/6/2025), Li menegaskan bahwa “globalisasi tidak akan berbalik arah.”
Baca Juga
PM Li Qiang: China Siap Berbagi Pertumbuhan dan Peluang Pembangunan dengan Indonesia
Keterlibatan dalam ekonomi internasional, kata Li, adalah cara untuk “membentuk ulang aturan dan tatanan,” sembari menyerukan negara-negara agar tetap berada di jalur yang “benar.”
Li tidak secara spesifik menanggapi ketegangan dagang dengan AS maupun konflik Israel-Iran. Ia berbicara dalam sesi pleno pembukaan Konferensi Tahunan Forum Ekonomi Dunia di Tiongkok, yang sering disebut “Summer Davos.”
Baca Juga
Terobosan Perang Dagang: AS-China Sepakat Pangkas Tarif Selama 90 Hari
Mengomentari pernyataan Li tentang “membentuk ulang aturan dan tatanan”, Adam Tooze, profesor sejarah dari Universitas Columbia, mengatakan: “Saya pikir kita akan melihat sebuah pluralisasi.”
Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini lebih kepada proses ketimbang siapa yang menetapkan tatanan global.
Dalam pidatonya, Li juga menyebut bahwa lebih dari 30 negara telah menandatangani “Konvensi Pembentukan Organisasi Internasional untuk Mediasi” di Hong Kong bulan lalu. Ia menyebut inisiatif ini sebagai bentuk penerapan “kebijaksanaan Timur dalam menyelesaikan sengketa internasional.”
Li juga menyampaikan pandangan optimis terhadap ekonomi Tiongkok dan menyatakan bahwa otoritas akan menerapkan langkah-langkah untuk “membuat Tiongkok menjadi kekuatan konsumsi berskala raksasa,” di samping peran dominannya dalam sektor manufaktur.
Louise Loo, kepala ekonom untuk Tiongkok di Oxford Economics, mencatat bahwa Li terlihat “cukup percaya diri dengan momentum pertumbuhan organik dalam negeri.”
“Kami masih melihat tantangan bagi Tiongkok tahun ini, tapi sepertinya tidak seburuk yang kami kira sebelumnya,” ujar Loo kepada Emily Tan dari CNBC dalam acara The China Connection.
“Seberapa besar pun tarif hukuman yang diberlakukan, dalam jangka pendek cukup sulit untuk melepaskan Tiongkok dari rantai pasok global. Itu artinya ekspor Tiongkok masih akan tetap kompetitif dan mendukung pertumbuhan ekonominya,” tambahnya.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh, dan Presiden Ekuador Daniel Noboa Azín termasuk di antara para pemimpin politik utama yang hadir tahun ini, menurut siaran pers forum tersebut.
Pendiri dan Ketua JD.com Liu Qiangdong serta Pendiri dan Ketua TCL Li Dongsheng juga tercatat sebagai peserta konferensi.

