Pengamat: Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran Tingkatkan Eskalasi Global yang Mengancam Perdamaian
JAKARTA, Investortrust.id - Langkah Presiden Donald Trump untuk mengerahkan pembom siluman B-2 dan melancarkan serangan terhadap tiga situs nuklir utama Iran—termasuk Fordow—menandai eskalasi paling serius dalam konflik bersenjata antara Israel dan Iran, sekaligus memperluas konflik menjadi dimensi global.
Guru Besar Universitas Andalas Prof Syafruddin Karimi berpendapat, langkah agresif ini menandakan pergeseran strategis yang berbahaya, karena AS secara terbuka bergabung dengan Israel dalam upaya militer terhadap Iran.
"Padahal, Iran telah berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan berada dalam kerangka perjanjian Non-Proliferation Treaty (NPT). Dengan menyasar situs Fordow, AS mengirimkan pesan kuat bahwa mereka bersedia melampaui batas konvensional dalam membentuk ulang arsitektur kekuatan di Timur Tengah," kata Syafruddin dalam pernyataan tertulisnya.
Syafruddin juga menyebut langkah sepihak Trump ini dipastikan menciptakan ketidakpastian dan membuka ruang bagi konflik yang lebih luas, dengan risiko memicu retaliasi yang lebih besar dari Iran, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20% pasokan minyak dunia.
"Dengan serangan ini, AS bukan hanya memperbesar ketegangan global, tetapi juga menggerus kredibilitasnya sebagai aktor yang selama ini mengklaim mendukung stabilitas internasional. Jika dunia ingin menghindari konflik kawasan menjadi perang global, maka sudah saatnya kekuatan internasional mendesak AS dan Israel menghentikan agresinya dan kembali ke jalur diplomasi, kata Syafruddin.
Sebagaimana diberitakan, Trump dalam unggahannya di TruthSocial mengatakan pihaknya sukses menyerang tiga instalasi pengayaan uranium milik Iran, dan pesawat-pesawat yang mengemban misi tersebut telah berhasil kembali dengan selamat.
"Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan."
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
"Seluruh pesawat kini berada di luar wilayah udara Iran. Muatan penuh BOM telah dijatuhkan di lokasi utama, Fordow. Semua pesawat dalam keadaan aman dan sedang dalam perjalanan pulang. Ini adalah momen bersejarah bagi Amerika Serikat, Israel, dan dunia," tulis Trump di Truth Social.
Ia menambahkan bahwa "Iran sekarang harus menyetujui untuk mengakhiri perang ini." Langkah ini secara langsung telah memasukkan Amerika Serikat ke dalam konflik terbuka dengan Iran.
Tiga pejabat senior Iran, yang berbicara dengan syarat anonim kepada The New York Times, menyatakan bahwa mereka yakin AS telah membombardir Fordow dan Natanz sekitar pukul 02.30 waktu setempat di Iran.
Tiga lokasi yang diserang mencakup dua pusat pengayaan uranium utama Iran — Fordow dan Natanz — serta satu lokasi ketiga, Esfahan, yang diyakini menjadi tempat penyimpanan uranium yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata nuklir.
Jika lokasi-lokasi ini benar-benar hancur, besar kemungkinan program nuklir Iran akan mundur selama bertahun-tahun.
Donald Trump juga mengunggah ulang sebuah pesan dari akun intelijen sumber terbuka yang menyatakan bahwa "Fordow telah hancur."
Baca Juga
Korban Perang Terus Berjatuhan, Israel Klaim Tewaskan Komandan Tertinggi Iran
AS mengerahkan pesawat pembom B-2 menuju Guam sebelumnya pada hari yang sama. Menurut Reuters, pesawat-pesawat inilah yang digunakan dalam serangan tersebut, dan punya kemampuan untuk mengangkut bom GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), yang juga dikenal sebagai bom penembus bunker.
Bom GBU-57 MOP yang berbobot 13.000 kg ini mampu menembus hingga kedalaman 60 meter di bawah permukaan tanah. Pabrik Fordow diperkirakan berada di kedalaman 80–90 meter, sehingga kemungkinan diperlukan beberapa kali serangan untuk menghancurkannya.
Serangan terhadap ketiga lokasi ini menjadi pertama kalinya sejak tahun 1979 Amerika Serikat menyerang fasilitas utama di dalam wilayah Iran.
Setidaknya 430 orang telah tewas dan 3.500 lainnya terluka di Iran sejak Israel melancarkan serangannya pada 13 Juni, menurut data dari Kementerian Kesehatan Iran. Sementara itu, di Israel, 24 warga sipil tewas akibat serangan rudal Iran.

