China Tahan Bunga Acuan, Pasar Asia Pasifik Menguat
BEIJING, investortrust.id – Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup menguat pada perdagangan Jumat (20/6/2025), seiring keputusan Bank Sentral China (PBOC/ People’s Bank of China) yang mempertahankan suku bunga pinjaman utama di tengah ketegangan geopolitik yang kian memanas antara Israel dan Iran.
Baca Juga
PBOC Pertahankan Bunga Acuan di Tengah Ancaman Tarif dan Perlambatan Ekonomi
PBOC mempertahankan suku bunga pinjaman satu tahun (1-year loan prime rate) di 3,0% dan suku bunga lima tahun (5-year LPR) di 3,5%, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa Beijing masih berhati-hati dalam mendukung pemulihan ekonomi tanpa menambah risiko gelembung utang.
Pasar menyambut langkah ini dengan positif. Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,15%, sementara indeks CSI 300 di bursa daratan China naik tipis 0,24%.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump disebut sedang mempertimbangkan untuk mendukung militer Israel dalam melancarkan serangan ke Teheran. “Presiden akan membuat keputusan akhir dalam dua minggu ke depan,” sebut pernyataan Gedung Putih pada Jumat pagi waktu Asia.
Baca Juga
Trump Beri Iran ‘Ultimatum Terakhir’, AS Siapkan Evakuasi Warga dari Israel
Kospi Tembus 3.000
Dikutip dari CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,12%, sedangkan indeks Topix turun tipis 0,17% dalam perdagangan yang bergerak fluktuatif. Pasar menanggapi data inflasi terbaru yang menunjukkan tekanan harga masih tinggi. Inflasi inti Jepang — yang tidak memasukkan harga makanan segar — melonjak ke 3,7% pada Mei, tertinggi sejak Januari 2023, melampaui estimasi ekonom sebesar 3,6%.
Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak 1,19% dan menembus level psikologis 3.000 untuk pertama kalinya dalam 42 bulan terakhir. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga menguat 1,01%, menandakan sentimen investor yang membaik.
Australia mencatatkan penguatan terbatas. Indeks S&P/ASX 200 berhasil memangkas pelemahan dan ditutup turun tipis 0,2%.
Di India, indeks Nifty 50 dibuka naik 0,21%, sedangkan BSE Sensex menguat 0,29% di tengah keyakinan pasar terhadap stabilitas kebijakan fiskal pasca pemilu.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks saham AS cenderung melemah pada awal sesi Asia, seiring investor global mencermati perkembangan terbaru konflik antara Israel dan Iran, termasuk potensi keterlibatan militer Amerika.
Ketidakpastian geopolitik, prospek suku bunga global, serta tekanan inflasi di Asia Timur menjadi tiga variabel kunci yang terus membentuk arah pasar. Dengan investor masih mencermati arah kebijakan dari Washington hingga Beijing, volatilitas diperkirakan tetap tinggi di pekan-pekan mendatang.

