Saham Berjangka AS Menguat Tipis di Tengah Meningkatnya Risiko Geopolitik Timteng
NEW YORK, investortrust.id – Indeks saham berjangka AS menguat menjelang pembukaan perdagangan Senin, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik Israel-Iran yang memicu lonjakan harga minyak dan bayang-bayang tekanan terhadap ekonomi global.
Baca Juga
Israel Serang Ladang Gas Terbesar Iran, Harga Minyak Melonjak
Futures indeks Dow Jones Industrial Average naik 9 poin atau 0,02%. Sementara itu, S&P 500 futures bertambah 0,14% dan Nasdaq 100 futures menguat 0,19%.
Kontrak berjangka minyak mentah WTI melonjak sekitar 3% pada Minggu malam waktu AS, menembus level US$75 per barel, setelah perdagangan kembali dibuka.
Investor global terus mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pekan lalu. Sebagai balasan, Teheran menembakkan rudal ke sejumlah lokasi strategis Israel, memperburuk eskalasi di kawasan.
Ketegangan tersebut menjadi pemicu aksi jual besar-besaran di Wall Street pada Jumat lalu. Indeks Dow Jones jatuh lebih dari 700 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing terkoreksi lebih dari 1% dalam satu sesi. Penurunan tersebut juga menyeret ketiga indeks utama ke wilayah negatif secara mingguan—Dow melemah 1,3%, S&P turun 0,4%, dan Nasdaq terkoreksi 0,6%.
Baca Juga
Wall Street Hancur Lebur Setelah Serangan Israel-Iran, Dow Anjlok Lebih dari 750 Poin
Selain harga minyak, harga emas juga melonjak tajam karena investor memburu aset lindung nilai (safe haven) di tengah gejolak pasar.
Serangan militer antara kedua negara terus berlanjut sepanjang akhir pekan, dengan masing-masing pihak menargetkan fasilitas energi strategis. Iran bahkan mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang dilintasi sekitar 20% pasokan minyak global. Langkah ini diperkirakan dapat memperdalam dampak ekonomi global jika benar-benar direalisasikan.
“Ini adalah serangan terbesar terhadap wilayah Iran sejak dekade 1980-an. Risiko eskalasi regional kini meningkat. Sejauh mana konflik akan meluas kemungkinan bergantung pada sejauh mana keterlibatan AS dan Rusia dalam beberapa hari atau pekan mendatang,” tulis Ed Mills, analis kebijakan dari Raymond James, dalam catatannya kepada klien, seperti dikutip CNBC.
Di sisi makro, para pelaku pasar akan mencermati data survei manufaktur AS yang dijadwalkan rilis Senin waktu setempat. Data ini menjadi indikator penting menjelang keputusan suku bunga oleh Federal Reserve pada Rabu mendatang.
Baca Juga
Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga tetap di tempat mencapai 97%, meskipun Presiden Donald Trump kembali menekan Ketua The Fed Jerome Powell untuk menurunkan suku bunga. Namun, kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah kemungkinan akan mengurangi probabilitas pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.

