Bursa Eropa Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik Timteng, Saham Ryanair Melonjak 5%
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa berhasil bangkit dari pelemahan awal dan ditutup menguat pada perdagangan Senin 18/5/2026) waktu setempat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 naik 0,3%, dengan mayoritas bursa utama di London, Paris, dan Frankfurt berakhir di zona hijau. Saham sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan sekitar 2%, seiring melonjaknya harga minyak dunia.
Pasar saham Eropa bergerak berlawanan arah dengan bursa Asia-Pasifik yang melemah setelah Trump mendesak Iran agar “bergerak cepat” menyepakati syarat-syarat perjanjian damai.
Baca Juga
Bursa Asia Melemah, Ancaman Trump terhadap Iran Guncang Pasar
Dalam unggahan di Truth Social pada Minggu, Trump menyatakan bahwa “waktu terus berjalan” bagi Iran dan memperingatkan bahwa “tidak akan ada yang tersisa” jika tindakan tidak segera diambil. Namun, Trump tidak menjelaskan lebih rinci ancaman tersebut.
Pernyataan itu muncul ketika negosiasi antara AS dan Iran dinilai mengalami kebuntuan, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasokan energi global.
Lonjakan ketegangan langsung mendorong harga minyak lebih tinggi. Minyak Brent kontrak Juli naik 1,53% menjadi US$110,93 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,4% ke level US$106,90 per barel.
Kenaikan biaya energi menjadi perhatian utama ketika para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G7 bertemu di Paris pada Senin.
Di sisi korporasi, saham Ryanair melonjak 5% setelah maskapai berbiaya murah itu melaporkan laba setelah pajak sebesar 2,3 miliar euro untuk tahun fiskal yang berakhir Maret, naik 40% dibanding tahun sebelumnya.
Chief Financial Officer Ryanair, Neil Sorahan, mengatakan perusahaan telah melakukan lindung nilai terhadap 80% kebutuhan bahan bakar jet musim panas dan bahkan menyiapkan skenario “armageddon” di tengah ketidakpastian harga minyak.
Sementara itu, pasar obligasi global juga berada di bawah tekanan. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,6%, mendekati level tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai 5,165%, sedangkan yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik lebih dari 2 basis poin menjadi 3,1776%.
Investor kini mencermati apakah lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah akan memperburuk inflasi global dan mempersulit langkah bank sentral dalam menurunkan suku bunga.

