Sentimen Inflasi dan Saham Teknologi Dongkrak Wall Street, Saham Oracle Melonjak 13%
NEW YORK – investortrust.id – Pasar saham AS menguat pada Kamis waktu AS atau Jumat (13/6/2025) WIB. Indeks S&P 500 melaju didorong oleh lonjakan saham Oracle dan data inflasi yang lebih jinak dari perkiraan.
Baca Juga
Wall Street Lanjutkan Tren Positif Didorong Optimisme Perundingan AS-China
Indeks S&P 500 naik 0,38% ke level 6.045,26, hanya terpaut kurang dari 2% dari rekor penutupan tertingginya. Nasdaq Composite menambahkan 0,24% menjadi 19.662,48, sedangkan Dow Jones Industrial Average naik 101,85 poin atau 0,24% ke posisi 42.967,62.
Saham Oracle melonjak 13,25% setelah perusahaan membukukan hasil keuangan kuartal keempat fiskal yang melampaui estimasi pendapatan dan laba. Chief Executive Officer Oracle, Safra Catz, menyampaikan dalam konferensi dengan investor bahwa pendapatan dari infrastruktur cloud diperkirakan akan melonjak lebih dari 70% pada tahun fiskal 2026, terdorong oleh permintaan kecerdasan buatan (AI). Sebagai perbandingan, pertumbuhan pada kuartal ini tercatat sebesar 52%.
"Pertumbuhan AI adalah mesin baru Oracle," kata Catz, seperti dikutip CNBC. Hal ini menyiratkan kepercayaan kuat terhadap ekspansi bisnis cloud perusahaan. Lonjakan ini turut mengangkat sektor teknologi dan menjadi pendorong utama penguatan indeks S&P 500.
Namun, sentimen pasar masih sedikit tertahan oleh koreksi saham Boeing, komponen Dow, yang anjlok hampir 5% setelah kecelakaan pesawat Air India Dreamliner 787 yang mengangkut 242 penumpang.
Pasar juga mendapat dorongan dari data inflasi produsen yang lebih lemah dari perkiraan. Indeks harga produsen (PPI) AS untuk bulan Mei naik hanya 0,1%, berbalik arah dari penurunan 0,2% pada April. Konsensus ekonom dalam survei Dow Jones sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,2%. Data ini turut menekan imbal hasil obligasi AS pada Kamis, memperkuat harapan akan stabilnya kebijakan suku bunga jangka pendek.
Meski demikian, Presiden Donald Trump kembali menjadi faktor ketidakpastian setelah menyampaikan kemungkinan penundaan penerapan tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang. Trump menyatakan kesediaannya untuk memperpanjang batas waktu 8 Juli untuk menyelesaikan negosiasi, namun ia juga menegaskan bahwa kelonggaran itu bisa jadi tidak diperlukan.
Baca Juga
Trump Tunda 90 Hari Pemberlakuan Tarif Baru, Ancam Tarif 125% untuk China
"Saya bisa saja memperpanjangnya, tapi saya rasa tidak perlu. Kami sudah membuat kesepakatan hebat dengan Tiongkok," kata Trump. "Kami juga sedang menyelesaikan dengan Jepang, Korea Selatan, dan negara lain. Dalam satu atau dua minggu ke depan, kami akan mengirim surat kepada negara-negara itu, memberi tahu isi kesepakatannya — seperti yang kami lakukan dengan Uni Eropa."
Pejabat dari AS dan Tiongkok dikabarkan telah menyusun kerangka pembicaraan lanjutan di London setelah dua hari pertemuan. Namun, rancangan awal kesepakatan ini masih menunggu restu akhir dari Trump dan Presiden Xi Jinping. Kedua negara setuju untuk mengurangi beberapa pembatasan terkait logam tanah jarang dan pelajar asing.
Baca Juga
Konflik Dagang Mereda, AS-China Sepakati Kerangka Kerja Konsensus Jenewa
Analis memperingatkan bahwa pasar masih menanti kejelasan arah kebijakan perdagangan dan fiskal sebelum menembus level psikologis baru.
"Kami percaya pemicu utama untuk reli pasar ke rekor tertinggi adalah penyelesaian tarif dan bagaimana itu berkaitan dengan anggaran serta kebijakan The Fed," kata Tom Hainlin, Senior Investment Strategist di U.S. Bank Asset Management Group.
"Kami banyak melihat berita soal jeda, negosiasi, atau kerangka kerja, tapi belum satu pun kesepakatan dagang resmi ditandatangani antara AS dan mitra dagangnya. Jadi untuk saat ini, pasar masih terjebak dalam pola pergerakan mendatar dan belum punya katalis kuat untuk breakout," tambahnya.

