Negara Lain Ramai-Ramai Masuk BRICS, Bagaimana Indonesia? Ini Kata Menlu Retno
JAKARTA, investortrust.id – Arab Saudi, Iran, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Ethiopia resmi bergabung dengan BRICS mulai 1 Januari 2024. Kelima negara itu memutusan untuk beraliansi dengan Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Bagaimana dengan Indonesia?
Menurut Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, pemerintah masih mempelajari untung rugi bergabung dengan BRICS.
"Kita masih mempelajari keuntungan bergabung dengan BRICS, masih kami pertimbangkan," tutur Retno saat menghadiri diskusi di Media Center Indonesia Maju, Kamis (04/01/2024).
Baca Juga
BRICS --singkatan dari Brazil, Russia, India, China, South-Africa—adalah organisasi antarpemerintah yang beranggotakan Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Organisasi ini didirikan pada 2001 untuk menjadi penyeimbang hegemoni negara-negara maju yang dimotori AS dan Uni Eropa.
BRICS didirikan Brazil, Russia, India, dan China, sedangkan Afrika Selatan baru bergabung pada 2010. Per 1 Januari 2024, lima negara lain resmi bergabung dengan BRICS, yaitu Arab Saudi, Mesir, Iran, UEA, dan Ethiopia. Indonesia sempat disebut-sebut berminat masuk BRICS bersama lima negara lain yang baru resmi bergabung.
Menlu Retno Marsudi mengungkapkan, Indonesia memiliki prinsip untuk selalu menghitung manfaat setiap kebijakan politik luar negerinya.
"Kami terus mengkaji. Politik luar negeri kita selalu kita hitung dan well calculated. Tidak ada keputusan yang begitu saja diambil," tegas dia.
Retno menjelaskan, secara umum Indonesia membuka pintu kerja sama dengan semua pihak selama saling menguntungkan. Hal tersebut merupakan fundamental Indonesia dalam menimbang keuntungan untuk masuk ke dalam organisasi internasional mana pun.
Baca Juga
Jokowi Tegaskan Indonesia Masih Kaji Keikutsertaan Jadi Anggota BRICS
Namun, kata Retno, Indonesia memiliki hubungan ekonomi yang baik dengan negara-negara anggota BRICS. "Hubungan ekonomi kita dengan masing-masing negara BRICS dalam kondisi baik. Perdagangan kita yang paling besar dengan China dan India," ucap dia.
Retno menambahkan, meski belum bergabung, Indonesia menjaga diplomasi ekonomi dan politik dengan negara-negara anggota BRICS.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada November 2023 mencatatkan surplus US$ 33,63 miliar. India, negara anggota BRICS, menjadi penyumbang surplus terbesar senilaiUS$ 1,544 miliar.

