Permintaan China dan Eropa Meningkat, Harga Minyak Melesat di Atas 3%
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak mentah global melonjak lebih dari 3% pada Selasa (6/5/2025), mencatatkan kenaikan harian terkuat dalam lebih dari sebulan. Rebound ini terjadi setelah tekanan teknikal akibat keputusan OPEC+ untuk menaikkan produksi mulai mereda, sementara sinyal pemulihan permintaan dari Eropa dan Tiongkok kembali menyuntikkan optimisme di pasar energi.
Baca Juga
Harga Minyak Jatuh ke Level Terendah sejak 2021, Ini Pemicunya
Minyak Brent naik $1,92 atau 3,19% dan ditutup pada $62,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik $1,16 atau 3,43% menjadi $59,09 per barel.
Kedua harga acuan itu tersebut pulih dari kondisi technically oversold, sehari setelah mencatatkan penutupan terendah sejak Februari 2021.
OPEC+, yang merupakan gabungan negara-negara OPEC dan sekutu seperti Rusia, pada akhir pekan memutuskan untuk kembali mempercepat peningkatan produksi minyak untuk bulan kedua berturut-turut.
“Setelah mengevaluasi keputusan OPEC+ yang terbaru, pelaku pasar kini kembali fokus pada perkembangan dagang dan potensi tercapainya kesepakatan,” ujar Tamas Varga, analis dari PVM, bagian dari TP ICAP, seperti dikutip CNBC.
Varga juga menyoroti meningkatnya premi risiko geopolitik di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan terhadap sasaran Houthi yang didukung Iran di Yaman, sebagai balasan atas serangan terhadap Bandara Ben Gurion.
Dari sisi permintaan, konsumen di Tiongkok dilaporkan meningkatkan belanja selama libur Hari Buruh, sementara pelaku pasar kembali aktif usai libur lima hari. “Tiongkok kembali dibuka hari ini, dan sebagai importir minyak terbesar, pembeli kemungkinan bergegas mengamankan minyak di harga rendah saat ini,” ujar Priyanka Sachdeva, analis senior dari Phillip Nova.
Di AS, dolar melemah ke posisi terendah dalam sepekan terhadap sekeranjang mata uang utama, karena investor semakin tak sabar menanti kepastian terkait kesepakatan dagang. Melemahnya dolar membuat harga minyak dalam denominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari negara lain.
Sementara itu, data dari LSEG I/B/E/S menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Eropa diperkirakan membukukan pertumbuhan laba kuartal I sebesar 0,4%, membaik dari prediksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan sebesar 1,7%.
Uni Eropa juga memperketat sikap terhadap Rusia dengan mengusulkan sanksi tambahan terhadap lebih dari 100 kapal dalam shadow fleet Rusia, sebagai bagian dari paket sanksi ke-17 terkait invasi ke Ukraina pada 2022.
Presiden Trump mengatakan bahwa dalam dua pekan mendatang ia akan mengumumkan tarif terhadap produk farmasi, langkah terbaru dalam rangkaian kebijakan tarif yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang pasar global.
Defisit perdagangan AS tercatat melebar ke rekor tertinggi pada Maret, seiring perusahaan meningkatkan impor barang sebelum tarif diberlakukan. Hal ini menyeret pertumbuhan ekonomi AS ke wilayah negatif pada kuartal I, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
“Kami memperkirakan ekonomi AS akan terhindar dari resesi besar tahun ini seiring tercapainya beberapa kesepakatan dagang dan penurunan tarif, tetapi pertumbuhan PDB kemungkinan akan melambat dari 2,8% tahun lalu menjadi sekitar 1,5% tahun ini,” tulis Solita Marcelli, CIO Americas dari UBS Global Wealth Management.
Baca Juga
Powell Sebut The Fed Menunggu ‘Kejelasan’ Kebijakan Trump Sebelum Putuskan Suku Bunga
The Fed diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga dalam keputusan hari Rabu, di tengah ketidakpastian ekonomi akibat tarif. Pemangkasan suku bunga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak, namun tarif justru mendorong inflasi, yang biasanya dijawab Fed dengan suku bunga lebih tinggi.

