Wall Street Pesta Pora, Saham Teknologi ‘Mega-Cap’ Melesat
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melonjak pada Kamis waktu AS atau Jumat (25/4/2025) WIB. Kenaikan kuat terjadi pada saham-saham teknologi ‘mega-cap’, saat investor terus mencari tanda-tanda kemajuan di bidang perdagangan global.
Indeks S&P 500 melaju 2,03% ditutup di level 5.484,77, sementara Nasdaq Composite yang sarat teknologi melesat 2,74% dan berakhir di 17.166,04. Dow Jones Industrial Average juga menguat, meski sedikit tertinggal dibanding dua indeks lainnya karena tertekan oleh penurunan 6,6% pada saham IBM. Dow Jones masih berhasil menambahkan 486,83 poin, atau 1,23%, dan ditutup di 40.093,40. Ini menandai penutupan pertama indeks blue-chip itu di atas level 40.000 sejak 15 April.
Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar menguat tajam. Saham Nvidia melonjak 3,62%, Meta terdongkrak 2,48%, Amazon melesat 3,29%, Tesla melaju 3,5%, dan Microsoft melonjak 3,45%. Lonjakan saham mega-cap ini mendorong indeks-indeks utama mencatatkan kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut.
Sektor teknologi baru-baru ini sempat terguncang karena sikap perdagangan Gedung Putih yang semakin konfrontatif, khususnya terhadap China, yang mengurangi sentimen terhadap sektor tersebut.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Aksi Jual Saham Teknologi, Dow Anjlok Hampir 700 Poin, Nasdaq Merosot 3%
Sikap AS-China
Gedung Putih telah mengisyaratkan sikap lebih lunak kepada Tiongkok. Namun, belum ada tanggapan senada dari China. Pada malam sebelumnya, Beijing menyatakan bahwa tidak ada pembicaraan perdagangan yang sedang berlangsung dengan AS. Juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yadong, mengatakan bahwa “semua pernyataan” mengenai kemajuan dalam pembicaraan bilateral harus diabaikan. Ia juga menyerukan pembatalan tarif “sepihak”.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Donald Trump mengatakan ia bersedia mengambil pendekatan yang kurang konfrontatif terhadap pembicaraan dagang dengan Beijing. Selain itu, Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan pada hari Rabu bahwa AS memiliki “peluang untuk kesepakatan besar” dalam perdagangan. Impor China dikenai tarif AS sebesar 145%.
Baca Juga
Menkeu AS Sebut Kemungkinan ‘Deeskalasi’ Perang Tarif AS-China dalam Waktu Dekat
Dengan mempertimbangkan kurangnya kemajuan negosiasi perdagangan dengan China, Ross Mayfield, analis investasi di Baird, bersikap hati-hati terhadap reli naik pada hari Kamis.
“Saya tidak mempercayai pergerakan ini,” katanya kepada CNBC dalam sebuah wawancara.
China secara eksplisit menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung. “Mungkin pasar masih merasa cukup percaya diri karena setidaknya pemerintahan ini membicarakan keinginan untuk mencapai kesepakatan, alih-alih menggali posisi dan menaikkan tarif ke tingkat yang tidak masuk akal. Mungkin masih ada sedikit optimisme tersisa dari kemarin,” bebernya.
Namun, investor menerima beberapa kabar baik pada Kamis sore ketika Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintahan Trump mungkin mencapai “kesepahaman” mengenai perdagangan dengan Korea Selatan “secepatnya minggu depan.”
Baca Juga
Wall Street Terbang Setelah Ada Sinyal ‘Deeskalasi’ Perang Dagang AS-China, Dow Melejit 1.000 Poin
S&P 500 telah turun 3,3% sejak 2 April, hari ketika Trump mengumumkan kebijakan barunya terhadap impor AS. Sejak saat itu, Dow telah turun 5,1%, sementara Nasdaq kehilangan 2,5%.
Indeks-indeks utama saat ini bergerak menuju penutupan minggu ini di wilayah positif, yang akan menandai minggu positif kedua dalam tiga minggu terakhir bagi ketiganya.

