Nvidia Merugi Hingga Rp 93 Triliun Akibat Batasan Ekspor Chip AI
CALIFORNIA, investortrust.id – Raksasa produsen chip asal Amerika Serikat (AS), Nvidia, mengumumkan kerugian sebesar US$ 5,5 miliar (sekitar Rp 93 triliun) setelah pemerintah AS memperketat pembatasan ekspor chip kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) H20 ke China. Chip ini merupakan salah satu produk unggulan Nvidia yang dirancang khusus untuk memenuhi permintaan pasar China pasca regulasi ekspor diberlakukan.
Pembatasan tersebut diberlakukan karena kekhawatiran akan chip H20, yang disebut tetap memiliki kemampuan tinggi dalam konektivitas memori dan dapat digunakan untuk membangun superkomputer. Oleh sebab itu, sejak 2022 AS telah melarang chip tersebut diekspor ke China.
“H20 tetap punya performa tinggi dalam inference, yaitu saat model AI memberikan jawaban kepada pengguna. Dan itu kini jadi pasar terbesar dalam dunia chip AI,” ujar CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam pernyataannya dilansir dari Reuters, Jumat (18/4/2025).
Sejumlah perusahaan teknologi besar China seperti Tencent, Alibaba, dan ByteDance dilaporkan telah meningkatkan pesanan chip H20. Namun, pada 9 April lalu, pemerintah AS memberi tahu Nvidia bahwa ekspor chip tersebut kini membutuhkan lisensi, yang berlaku tanpa batas waktu mulai 14 April.
Baca Juga
Akibat kebijakan ini, Nvidia terpaksa mencatatkan biaya terkait persediaan, komitmen pembelian, dan cadangan lain yang nilainya mencapai US$ 5,5 miliar. Saham Nvidia langsung turun sekitar 6% dalam perdagangan akibat aturan tersebut.
Lembaga Institute for Progress juga memperingatkan bahwa beberapa perusahaan China kemungkinan telah melanggar batasan ekspor tersebut. Mereka menyebut Tencent dan startup DeepSeek sebagai pihak yang diduga membangun sistem AI yang melebihi batasan superkomputer yang diizinkan.
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Tencent membantah keras. “Kami tidak melanggar hukum dan tidak membangun superkomputer. Klaim itu sepenuhnya salah,” tegasnya dalam pernyataan resmi.
Sementara itu, Nvidia enggan memberikan komentar lebih lanjut selain informasi yang sudah disampaikan dalam dokumen resmi. Departemen Perdagangan AS juga belum memberikan pernyataan lebih lanjut.
Di tengah tekanan regulasi ini, Nvidia tetap berusaha melanjutkan ekspansi domestik. Perusahaan mengumumkan rencana pembangunan pusat server AI di Negeri Paman Sam senilai US$ 500 miliar dalam empat tahun mendatang, bekerja sama dengan mitra seperti TSMC, sejalan dengan dorongan pemerintahan Trump untuk memperkuat produksi dalam negeri. (C-13)

