Disidang Antitrust, Mark Zuckerberg Ungkap Pernah Ingin Pisahkan Instagram dari Meta
WASHINGTON, investortrust.id - CEO Meta Mark Zuckerberg mengungkapkan pernah mempertimbangkan untuk memisahkan Instagram dari Meta pada 2018. Hal ini disampaikan dalam sidang lanjutan gugatan Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) terhadap Meta terkait dugaan praktik monopoli, Selasa (15/04/2025) waktu setempat.
Pernyataan tersebut muncul dalam bentuk dokumen internal yang ditunjukkan saat Zuckerberg menjalani hari kedua kesaksiannya. Dalam memo tersebut, Zuckerberg menulis, “Saya bertanya-tanya apakah kita sebaiknya mempertimbangkan langkah ekstrem dengan memisahkan Instagram menjadi perusahaan sendiri.”
Dikutip dari Reuters, Rabu (16/04/2025), Zuckerberg saat itu khawatir bahwa upaya Meta untuk menggabungkan aplikasi-aplikasi seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp akan mengundang perhatian regulator. Hal ini diperkirakan bisa berujung pada pemisahan paksa.
“Bisa saja dalam 5–10 tahun ke depan, kita dipaksa memisahkan Instagram dan mungkin WhatsApp juga,” katanya.
Baca Juga
Dituduh Monopoli dan Hambat Persaingan
Meski akhirnya Meta memutuskan untuk tetap mengintegrasikan semua aplikasinya pada tahun berikutnya, pertimbangan Zuckerberg itu kini menjadi bukti penting di pengadilan. FTC menggugat Meta karena dianggap membentuk monopoli dan menghambat persaingan di pasar media sosial.
Dalam kesaksian lain, Zuckerberg juga mengakui alasan utama Meta membeli Instagram pada 2012 adalah karena aplikasi tersebut memiliki fitur kamera yang lebih baik. “Kami sedang membangun aplikasi kamera, tapi saya pikir Instagram lebih unggul, jadi lebih baik dibeli,” ujarnya.
FTC menilai pengakuan itu sebagai bukti bahwa Meta menerapkan strategi 'buy or bury', yakni membeli pesaing yang potensial agar tidak berkembang dan mengancam dominasi Meta. Tuduhan ini memperkuat argumen bahwa Meta menyalahgunakan kekuatannya di pasar.
Namun demikian, Zuckerberg membela diri dengan menyebut bahwa membangun aplikasi baru bukan hal mudah. “Kami telah mencoba membangun puluhan aplikasi, tapi sebagian besar tidak mendapatkan banyak perhatian,” katanya di pengadilan.
Meta juga membela diri bahwa pasar media sosial sangat kompetitif, dengan kehadiran TikTok, YouTube, dan aplikasi perpesanan dari Apple. Perusahaan menilai definisi pasar yang digunakan FTC tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Baca Juga
Sidang ini menjadi ujian besar bagi komitmen pemerintah AS dalam menindak dominasi perusahaan teknologi besar. Putusan kasus ini bisa membuka jalan bagi pembatasan lebih luas terhadap akuisisi dan penggabungan di industri digital.
Dengan semakin banyaknya dokumen internal yang muncul di pengadilan, posisi Meta dalam menghadapi gugatan ini semakin rumit. Jika FTC menang, maka proses pemisahan akan diputuskan di tahap persidangan lanjutan.
Namun demikian, divestasi Instagram belum tentu otomatis dilakukan, karena baru dijadikan opsi. Putusan pengadilan nantinya akan mempertimbangkan dampak pada Meta, pengguna, dan ekosistem digital secara menyeluruh. (C-13)

