Siasati Tarif Trump, Xi Jinping Akan Melawat ke Asia Tenggara Perkuat Hubungan Ekonomi
BEIJING, Investortrust.id - Presiden China, Xi Jinping dijadwalkan bakal melwat ke sejumlah negara Asia Tenggara, dan kunjungan pertama akan mengarah ke Vietnam. Lawatan ke Vietnam yang akan dilakukan Senin (14/4/2025) ini akan menandaai kunjungannya ke sejumlah negara Asia Tenggara demi memperkuat hubungan di tengah memanasnya perang dagang.
Dilaporkan TheGuardian, Minggu (13/4/2025), Jinping juga akan akan mengunjungi Malaysia setelah melawat ke Vietnam pada Senin. Setelah itu ia dijadwalkan berkunjung Kamboja. Sejumlah pejabat China menyebut lawatan Jinping kali ini sebagai tur high profile dan memiliki kepentingan besar.
Kemungkinan besar, Tiongkok akan menggunakan kunjungan ini untuk menegaskan bahwa mereka adalah mitra yang stabil, gambaran kontras mengingat hubungannya dengan Washington yang memberlakukan tarif memberatkan bagi seluruh negara Asia Tenggara, yang nota bene amat bergantung pada ekspor.
Vietnam sendiri digambarkan sebagai negara dengan kekuatan manufaktur, lalu Kamboja yang memiliki daya saing tinggi di sektor pakaian dan alas kaki. Keduanya dinilai termasuk yang paling terdampak oleh tarif AS, dengan masing-masing dikenakan sebesar 46% dan 49%.
Baca Juga
Trump Kena Batunya, Cabut Tarif Impor Barang Elektronik Termasuk Asal China
Diperkirakan pada lawatannya esok China akan menandatangani puluhan kesepakatan dengan Vietnam, termasuk potensi dijalinnya perjanjian investasi dan kerja sama untuk pengembangan jaringan kereta api.
Pada hari ini Minggu (13/4/2025), China kembali menyerukan kepada AS untuk sepenuhnya membatalkan tarif sebesar 145% yang masih diberlakukan atas impor dari China ke AS, kecuali untuk produk elektronik konsumen dan peralatan penting untuk produksi chip.
“Kami mendesak AS untuk ... mengambil langkah besar untuk memperbaiki kesalahannya, sepenuhnya membatalkan praktik salah berupa tarif resiprokal dan kembali ke jalur yang benar berdasarkan asas saling menghormati,” kata juru bicara kementerian perdagangan China dalam sebuah pernyataan yang dikutip TheGuardian. Sementara China menerapkan tarif sebesar 125% terhadap barang-barang AS mulai berlaku pada hari Sabtu (12/4/2025).
Selama lawatan ke negara-negara Asia Tenggara tersebut, China kemungkinan akan “mencoba memposisikan diri sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dalam sistem perdagangan berbasis aturan, sambil menggambarkan AS sebagai negara nakal yang berniat merusak hubungan perdagangan,” demikian kata Stephen Olson, mantan negosiator perdagangan AS yang kini menjadi peneliti senior tamu di ISEAS – Yusof Ishak Institute.
Masih belum jelas apakah akan ada kesepakatan konkret dan bermakna yang dihasilkan dari pertemuan-pertemuan tersebut, tetapi secara simbolis kunjungan ini akan sangat penting, tambah Olson.
Baca Juga
Xi Jinping dan Prabowo Saling Ucapkan Selamat atas 75 Tahun Hubungan Diplomatik
Bagi para pejabat di Hanoi, kunjungan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara China dan AS, yang merupakan dua negara mitra ekonomi penting bagi Vietnam.
AS adalah pasar ekspor utama bagi Asia Tenggara serta mitra keamanan yang berperan sebagai penyeimbang terhadap sikap agresif China di Laut China Selatan yang dipersengketakan. Namun, perdagangan di kawasan ini sangat terkait erat dengan China, dengan negara-negara anggota ASEAN tercatat sebagai negara penerima China terbesar pada tahun lalu.
Terdapat kekhawatiran di kawasan ini bahwa tarif 145% yang diberlakukan AS terhadap China dapat menyebabkan membanjirnya barang-barang murah asal Tiongkok ke negara-negara mereka, dan berpotensi merusak industri lokal.
Vietnam, dan banyak negara lain di Asia Tenggara, secara tradisional berusaha untuk tidak berpihak pada dua negara raksasa ekonomi tersebut, dan akan berupaya menghindari memprovokasi salah satu pihak, terutama saat mencoba meyakinkan Washington untuk menurunkan tarif sebesar 46% bagi Vietnam.
Xi jinping sejatinya belum mengunjungi Kamboja dan Malaysia setidaknya dalam sembilan tahun terakhir. Disampaikan juru bicara kementerian luar negeri China, Lin Jian, kunjungan ke Malaysia akan menjadi “tonggak penting” bagi kedua negara. Sementara itu ia menggambarkan Kamboja sebagai “sahabat sejiwa”.
Kamboja dianggap merupakan salah satu sekutu terkuat China di kawasan ini. Kedua negara baru-baru ini mengumumkan penyelesaian proyek pangkalan angkatan laut utama yang didukung oleh China di Kamboja.
Baca Juga
Malaysia akan Pimpin Asean Respons Tarif Impor yang Ditetapkan Trump
Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, yang meneruskan kekuasaan dari ayahnya, Hun Sen, pada tahun 2023 mengatakan dalam peresmian jalan yang didanai oleh China bahwa “hubungan Kamboja-Tiongkok tidak berubah”.
Sementara itu di Malaysia, Menteri Komunikasi Malaysia, Fahmi Fadzil, mengatakan kunjungan Xi Jinping merupakan “bagian dari upaya pemerintah … untuk menjalin hubungan dagang yang lebih baik dengan berbagai negara termasuk Tiongkok”.
Kunjungan Xi merupakan bagian dari upaya diplomasi pesona yang lebih luas yang dilakukan oleh Tiongkok di tengah perang dagang. Pemimpin Tiongkok itu juga berjanji untuk memperdalam kemitraan strategis negaranya dengan Indonesia dalam percakapannya dengan Presiden Prabowo Subianto pada hari Minggu (13/4/2025).

