Saham Hong Kong Capai Level Tertinggi dalam 3 Tahun Berkat Prospek China
SINGAPURA, investortrust.id – Pasar saham Hong Kong mencapai puncak dalam tiga tahun dan memimpin pasar Asia lebih tinggi pada Selasa (18/03/2025). Investor optimistis terhadap prospek ekonomi China, didorong oleh data terbaru serta janji untuk lebih mendukung konsumsi di ekonomi terbesar kedua di dunia.
Indeks Hang Seng (.HSI) naik 2%, dan kenaikan 23% sejak awal tahun menjadikannya pasar utama dengan performa terbaik.
Sentimen positif ini kemungkinan akan berlanjut ke pasar Eropa, dengan kontrak berjangka menunjukkan pembukaan yang kuat. Kontrak berjangka Eurostoxx 50 naik 0,35%, sementara DAX berjangka naik 0,43%.
Baca Juga
Pasar Eropa di Zona Positif Jelang Pemungutan Suara Reformasi Utang Jerman
Fokus utama selama jam perdagangan Eropa adalah Jerman, di mana parlemen akan memberikan suara terkait lonjakan besar dalam pinjaman yang dapat mendorong ekonomi terbesar di Eropa dan merangsang pertumbuhan di seluruh kawasan.
Dampak Tarif Trump
Pada Senin, OECD memperkirakan bahwa tarif impor yang lebih tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump akan memperlambat pertumbuhan di Kanada, Meksiko, dan AS, serta meningkatkan inflasi.
Baca Juga
Tarif Trump Hambat Pertumbuhan, OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi AS dan Global
Namun, China justru menjadi pemenang tak terduga dari kebijakan tarif Trump dan pemangkasan belanja pemerintah dalam dua bulan pertamanya menjabat, karena kekhawatiran perlambatan ekonomi AS membuat investor mencari peluang di luar negeri.
"Momentum dan sentimen kini mulai berubah ke arah yang lebih positif," kata Nick Ferres, Chief Investment Officer di Vantage Point Asset Management, Singapura, seperti dikutip Reuters.
Para ‘short seller’ bergegas menutup posisi mereka terhadap dolar Selandia Baru, yang sensitif terhadap konsumsi China melalui ekspor pangan, mendorong mata uang ini ke level tertinggi tiga bulan di $0,58295 sebelum melemah 0,13% menjadi $0,58145.
Dolar Australia, yang juga sensitif terhadap ekonomi China, mencapai level tertinggi satu bulan mendekati $0,64 sebelum turun 0,27% menjadi $0,6368. Yuan China tetap bertahan di dekat level terkuatnya tahun ini.
Pada Minggu, China mengumumkan subsidi perawatan anak serta "rencana aksi khusus" untuk meningkatkan konsumsi domestik. Data pada Senin menunjukkan pertumbuhan penjualan ritel meningkat pada Januari-Februari.
Baca Juga
Trump mengatakan Presiden China Xi Jinping mungkin akan mengunjungi AS dalam waktu dekat, meningkatkan harapan akan kesepakatan yang dapat mengurangi tarif perdagangan.
Dolar Hong Kong tetap berada di paruh kuat kisaran perdagangannya terhadap dolar AS, sementara suku bunga antarbank Hong Kong menurun belakangan ini, menandakan masuknya aliran modal ke pusat keuangan tersebut.
Saham-saham daratan China (.SSEC) mencatat kenaikan yang lebih moderat, sementara indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik secara luas naik 1%, dengan pasar di Seoul (.KS11), Sydney (.AXJO), dan Taipei (.TWII) juga menguat.
Indeks Nikkei Jepang (.N225) melonjak 1,5%, menempatkannya di jalur kenaikan tertajam dalam tiga minggu terakhir.
Satu-satunya pengecualian di kawasan ini adalah Indonesia, di mana saham Jakarta (.JKSE) anjlok sekitar 7% ke level terendah dalam 3,5 tahun akibat kekhawatiran terhadap tarif balasan serta kebijakan fiskal dan prospek pertumbuhan.
Di Wall Street, saham stabil semalam, tetapi sentimen tetap rapuh menjelang April, ketika tarif balasan yang diancam Trump akan mulai berlaku.
Data penjualan ritel dan aktivitas pabrik AS yang lebih lemah dari perkiraan menekan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, membuka peluang kenaikan lebih lanjut bagi emas.
Harga emas mencapai rekor tertinggi $3.017 per ons selama jam perdagangan Asia. Euro sedikit melemah ke $1,0905, sementara pound sterling, yang sempat menyentuh level tertinggi empat bulan semalam, diperdagangkan mendekati $1,30.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun stabil di 4,2908%.
Pada hari ini, survei ekonomi Jerman akan dirilis, tetapi fokus utama pasar adalah pada pertemuan dua hari Federal Reserve AS yang akan berakhir pada Rabu, serta hasil panggilan telepon antara Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Trump mengatakan ia akan berbicara dengan Putin mengenai kemungkinan mengakhiri perang di Ukraina—prospek yang telah menekan harga gas Eropa dan mendorong penguatan euro dalam beberapa pekan terakhir.

