Perdamaian Rusia-Ukraina Masih Menggantung, Rubio: AS Upayakan Solusi yang Adil dan Berkelanjutan
WASHINGTON, investortrust.id - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Amerika Serikat sedang berupaya mencari solusi yang "adil" dan "berkelanjutan" untuk mengakhiri perang tiga tahun Rusia di Ukraina. Tetapi, baik Moskow maupun Kyiv harus membuat kompromi untuk mencapai perdamaian.
Baca Juga
Kegalauan Eropa di Tengah Upaya Trump Akhiri Perang di Ukraina
Rubio menyampaikan pandangannya setelah ia dan pejabat tinggi AS lainnya mengadakan pertemuan selama lebih dari empat jam di Arab Saudi dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan para pembantunya dalam upaya pertama untuk mengakhiri perang serta memperbaiki hubungan AS-Moskow yang tegang.
"Tujuannya adalah mengakhiri konflik ini dengan cara yang adil, langgeng, berkelanjutan, dan dapat diterima oleh semua pihak yang terlibat," kata Rubio kepada wartawan, seperti dikutip VOA. Tidak ada pejabat Ukraina atau Eropa yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Rubio meyakini Moskow bersedia terlibat dalam "proses serius" untuk mengakhiri perang, pada pekan depan.
Lavrov juga memiliki pandangan optimistis terhadap pembicaraan tersebut. "Kami tidak hanya saling mendengarkan, tetapi kami benar-benar memahami satu sama lain. Saya memiliki alasan untuk percaya bahwa pihak Amerika mulai lebih memahami posisi kami," ujarnya.
Puluhan ribu tentara Rusia dan Ukraina, serta warga sipil Ukraina, telah tewas dalam pertempuran yang menjadi konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.
Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk "menunjuk tim tingkat tinggi masing-masing guna mulai bekerja menuju jalur penyelesaian konflik di Ukraina secepat mungkin," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, dalam sebuah pernyataan. Bruce menyebut pertemuan tersebut sebagai "langkah maju yang penting" menuju perdamaian.
Rubio mengatakan bahwa Ukraina dan negara-negara Eropa harus terlibat dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang. Ia menambahkan bahwa jika perang berakhir, AS akan memiliki "peluang luar biasa ... untuk bermitra" dengan Rusia dalam perdagangan dan isu global lainnya. "Kunci untuk membuka peluang itu adalah mengakhiri konflik ini," ujarnya.
Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz dan Utusan Timur Tengah Steve Witkoff bergabung dengan Rubio dalam pembicaraan tersebut.
Waltz mengatakan kepada wartawan bahwa negosiasi untuk mengakhiri pertempuran akan berfokus pada wilayah dan jaminan keamanan bagi Ukraina dan Rusia.
"Ini harus menjadi akhir perang yang permanen, bukan hanya jeda sementara seperti yang pernah kita lihat sebelumnya," kata Waltz.
Baca Juga
Trump Tawarkan Konsesi pada Putin Jelang Pembicaraan Perdamaian Ukraina di Arab Saudi
Saat ini, Rusia menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina yang diakui secara internasional sejak 2014. Moskow mengendalikan Semenanjung Krimea yang dianeksasi secara sepihak pada 2014, serta sebagian besar wilayah timur Ukraina yang dikuasai separatis pro-Rusia dalam pertempuran berikutnya, dan wilayah yang direbut oleh militer Rusia sejak invasi tahun 2022.
Saat invasi dimulai, Moskow berharap dapat mengambil alih seluruh Ukraina dengan cepat. Namun, dengan perlawanan sengit dari Ukraina, perang malah berubah menjadi konflik darat yang berkepanjangan dengan serangan udara harian dari kedua belah pihak.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah lama menuntut agar batas wilayah negaranya dari tahun 2014 dipulihkan, tetapi pejabat AS menyatakan hal itu tidak realistis—sama halnya dengan tujuan Kyiv untuk bergabung dengan NATO, aliansi militer utama Barat, sebagai bagian dari penyelesaian damai yang dinegosiasikan.
Zelenskyy mengatakan bahwa negaranya tidak akan menerima penyelesaian perang yang ditentukan oleh AS dan Rusia.
Ia menunda perjalanannya ke Arab Saudi yang dijadwalkan minggu ini, dengan alasan bahwa pejabat Ukraina tidak diundang ke pembicaraan AS-Rusia pada Selasa. Pemimpin Ukraina itu menyiratkan bahwa ia ingin menghindari kunjungannya dikaitkan dengan pembicaraan tersebut dan menjadwal ulang kunjungannya untuk 10 Maret.
Zelenskyy dijadwalkan bertemu dengan utusan AS untuk Ukraina, Keith Kellogg, dalam perundingan pada Rabu.
Bruce mengatakan bahwa pembicaraan Rubio-Lavrov—diskusi mendalam pertama antara kedua negara dalam lebih dari tiga tahun—juga membuka jalan bagi lebih banyak perundingan di luar negosiasi untuk mengakhiri perang.
Ia menyebut bahwa kedua pihak akan "membentuk mekanisme konsultasi untuk menangani hambatan dalam hubungan bilateral kami dengan tujuan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menormalkan operasi misi diplomatik masing-masing."
Bruce menambahkan bahwa AS dan Rusia akan "membuka jalan bagi kerja sama di masa depan dalam isu-isu geopolitik yang memiliki kepentingan bersama serta peluang ekonomi dan investasi bersejarah" setelah perang berakhir.
Keterlibatan AS dan Rusia ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemimpin Eropa, yang dalam beberapa hari terakhir menegaskan bahwa Ukraina harus dilibatkan dalam diskusi tentang masa depannya, serta bahwa negara-negara Eropa harus memainkan peran dalam keputusan yang juga mempengaruhi keamanan mereka sendiri.
Baca Juga
Langkah Mengejutkan Trump Soal Rusia-Ukraina dan NATO Bikin Uni Eropa Ketar-ketir
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengadakan pertemuan dengan sejumlah pemimpin Eropa di Paris pada Senin, di mana mereka membahas peningkatan belanja pertahanan dan kemungkinan jaminan keamanan bagi Ukraina.
Ada perbedaan pendapat mengenai gagasan pengerahan pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina sebagai bagian dari potensi penyelesaian perang. Pemerintah seperti Inggris dan Swedia terbuka terhadap gagasan tersebut, sementara Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa pembahasan itu masih terlalu dini.

