Menlu Marco Rubio: Iran Mulai Lunak, AS Buka Lagi Jalur Diplomasi Nuklir
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Pembicaraan dengan Iran terkait program nuklir kembali berlangsung di tengah meningkatnya tekanan politik di Kongres AS agar perang segera diakhiri. Sinyal baru ini muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Tehran kini bersedia membahas sebagian isu nuklir yang sebelumnya ditolak untuk dinegosiasikan.
Pernyataan Rubio disampaikan dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS di Washington DC pada Selasa (02/06/2026) pukul 11.48 EDT atau Rabu (03/06/2026) pukul 22.48 WIB yang sekaligus menjadi kesaksian publik pertamanya sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026. “Pembicaraan dengan Iran tidak seperti pembicaraan dengan Swiss. Mereka membutuhkan mediator,” kata Rubio di hadapan para senator. Menurut dia, ada kemungkinan Iran mulai membuka diri terhadap isu nuklir yang bahkan “sebulan atau setahun lalu sama sekali tidak mau dibahas.” Namun Rubio menegaskan hal itu belum menjamin tercapainya kesepakatan yang dapat diterima publik maupun Senat AS.
Pernyataan Rubio menandai perubahan nada diplomatik dibanding sehari sebelumnya ketika Presiden Donald Trump mengatakan kepada CNBC bahwa dirinya “tidak peduli” jika negosiasi dengan Iran berakhir. Rubio, yang juga menjabat penasihat keamanan nasional Trump, membela keputusan Washington melancarkan serangan terhadap Iran bersama Israel. Menurutnya, Tehran selama ini membangun “tameng konvensional” berupa rudal, drone, dan kekuatan laut untuk melindungi fasilitas nuklirnya.
Baca Juga
“Iran mencoba menciptakan titik kebal (point of immunity), dan itulah yang coba dicegah Presiden Trump,” ujar Rubio. Ia menyebut operasi militer AS yang dinamai Operation Epic Fury berhasil melemahkan kemampuan Iran membangun rudal dan drone, meski mengakui Tehran masih memiliki kapasitas drone yang besar karena teknologi itu relatif mudah diproduksi.
Rubio kembali menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz menjadi syarat utama deeskalasi. Menurut Washington, Iran harus menghentikan ancaman terhadap kapal dagang, mencabut rencana pungutan pelayaran, membantu pembersihan ranjau laut, dan menjamin keselamatan kapal komersial yang melintas.
“Selat Hormuz harus terbuka, dengan satu cara atau cara lain,” tegas Rubio. Pernyataan itu sejalan dengan sikap AS dalam beberapa pekan terakhir yang memandang penutupan Selat Hormuz sebagai ancaman terhadap ekonomi global. Jalur strategis tersebut mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia sehingga menjadi titik tekan utama dalam negosiasi.
Namun, tekanan politik domestik terhadap pemerintahan Trump juga menguat. Senator Partai Demokrat dari New Hampshire, Jeanne Shaheen, menuding Gedung Putih menghindari pengawasan Kongres terkait perang Iran. “Konstituen saya meminta bantuan ekonomi di dalam negeri, bukan perubahan rezim di Havana, Caracas, atau Tehran,” ujar Shaheen.
Baca Juga
Sidang anggaran Departemen Luar Negeri AS itu berkembang menjadi forum yang mempertanyakan arah kebijakan luar negeri Trump, termasuk dugaan agenda perubahan rezim di sejumlah negara seperti Iran, Venezuela, dan Cuba. Informasi senada juga dilaporkan Reuters dan Associated Press. Reuters menyebut Iran tengah mempelajari proposal AS untuk menghentikan perang, meskipun hubungan kedua pihak masih dibayangi ketidakpercayaan dan sengketa soal pembukaan Selat Hormuz serta uranium yang diperkaya tinggi.
Associated Press melaporkan Rubio tetap optimistis diplomasi dapat dibuka kembali, meski status negosiasi masih belum jelas dan situasi keamanan kawasan tetap rapuh akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan kelompok bersenjata di Lebanon.
Pasar global pun memantau perkembangan ini dengan cermat. Ketidakpastian pembicaraan AS-Iran membuat harga minyak bergerak fluktuatif dan bursa saham negara-negara Teluk berada di zona merah, meski prospek diplomasi dinilai dapat menahan gejolak lebih besar di pasar energi dunia.

