Buka Diplomasi Baru, AS Siap Gelar Dialog Nuklir dengan Iran
DEN HAAG, investortrust.id - Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington akan memulai pembicaraan nuklir dengan Iran pada pekan depan, menyusul berakhirnya perang kilat berdurasi 12 hari antara Teheran dan Tel Aviv. Trump mengeklaim bahwa serangan bom bunker-buster yang menghancurkan situs nuklir Iran telah mempercepat tercapainya perdamaian.
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
Meski gencatan senjata mulai berlaku, tensi di kawasan tetap tinggi. Di tengah sorotan terhadap kerusakan fasilitas nuklir Iran, lembaga intelijen AS dan Israel berbeda dalam menilai durasi pemulihan program nuklir Negeri Mullah. Trump sendiri meyakini, Iran kini lebih tertarik untuk “memulihkan diri” ketimbang memperkaya uranium.
Trump menyebut keputusan untuk menjatuhkan bom penghancur bunker dalam serangan hari Minggu telah “menghancurkan” program nuklir Iran, dan menyebut hasilnya sebagai “kemenangan bagi semua pihak.”
“Itu sangat berat. Itu adalah penghancuran total,” ujarnya, sambil menepis penilaian awal dari Badan Intelijen Pertahanan AS yang menyebut program nuklir Iran kemungkinan hanya tertunda beberapa bulan.
Sementara itu, warga Iran dan Israel yang gelisah mencoba kembali menjalani kehidupan normal setelah 12 hari konfrontasi paling intens antara kedua musuh bebuyutan, dan menyusul dimulainya gencatan senjata pada Selasa.
Berbicara di Den Haag saat menghadiri KTT NATO, Trump mengatakan dirinya tidak melihat Iran akan kembali mengembangkan senjata nuklir. Teheran telah lama membantah tuduhan dari negara-negara Barat bahwa mereka memiliki ambisi senjata nuklir.
“Kami akan bicara dengan mereka pekan depan. Mungkin akan ada kesepakatan. Saya tidak tahu. Menurut saya, itu tidak terlalu penting,” ujar Trump, seperti dikutip Reuters.
Di hari yang sama, Direktur CIA John Ratcliffe menyatakan bahwa serangan udara AS telah “merusak parah” program nuklir Iran, meski ia tidak menyatakan bahwa program itu benar-benar dihancurkan. CIA menyebut ada “bukti kredibel” bahwa sejumlah fasilitas utama Iran hancur dan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun kembali.
Lembaga nuklir Israel menyebut serangan itu telah “memundurkan kemampuan Iran mengembangkan senjata nuklir selama bertahun-tahun.” Penilaian tersebut juga beredar di Gedung Putih, meskipun Trump mengaku tidak bergantung pada intelijen Israel.
Trump menyatakan yakin bahwa Iran akan mengambil jalur diplomasi. Ia tidak merinci lokasi maupun peserta pembicaraan pekan depan.
Jika Iran mencoba membangun kembali program nuklirnya, “kami tidak akan membiarkannya. Pertama, secara militer kami tidak akan izinkan,” katanya. Ia juga memperkirakan akan ada semacam hubungan baru antara AS dan Iran dalam penyelesaian masalah ini.
Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menolak pendekatan menilai kerusakan program nuklir Iran dari hitungan bulan sebagai ukuran. “Pengetahuan teknologi dan kapasitas industri tetap ada. Tidak bisa disangkal. Jadi kita perlu bekerja sama,” ujarnya. Prioritasnya kini adalah mengembalikan para inspektur internasional ke situs nuklir Iran.
Presiden Iran Isyaratkan Reformasi
Aksi pemboman Israel yang dimulai pada 13 Juni telah menewaskan jajaran tertinggi militer Iran dan beberapa ilmuwan nuklir. Iran membalas dengan serangan rudal besar-besaran yang untuk pertama kalinya menembus pertahanan Israel.
Baca Juga
Rudal Iran Hantam Rumah Sakit, Israel Balas Bombardir Reaktor Nuklir
Pemerintah Iran menyebut 627 warganya tewas dan hampir 5.000 lainnya terluka. Angka ini tidak dapat diverifikasi secara independen karena pembatasan media. Di sisi Israel, 28 orang dilaporkan tewas.
Israel mengeklaim telah menghancurkan situs nuklir dan persenjataan rudal Iran; sementara Iran menyatakan telah memaksa Israel menerima gencatan senjata melalui keberhasilan militernya.
Kemampuan Israel untuk menyerang kepemimpinan senior Iran kapan saja dianggap sebagai tantangan besar bagi para ulama penguasa Iran, terlebih saat negara itu berada di titik penting untuk mencari pengganti Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang kini berusia 86 tahun.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, seorang moderat yang terpilih tahun lalu, menyebut perang ini sebagai momentum untuk melakukan reformasi.
Baca Juga
Trump Isyaratkan Kemungkinan Pergantian Rezim di Iran Setelah Serangan AS
“Perang ini dan empati yang muncul antara rakyat dan pejabat adalah peluang untuk mengubah cara pandang dan perilaku pemerintahan agar mampu menciptakan persatuan,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Meski begitu, otoritas Iran bergerak cepat untuk menunjukkan kendali. Tiga pria dieksekusi karena dituduh bekerja sama dengan Mossad dan menyelundupkan peralatan untuk pembunuhan. Sebanyak 700 orang ditangkap karena dituduh memiliki hubungan dengan Israel, menurut media Nournews.
Sebelum gencatan senjata, Netanyahu dan Trump sempat menyatakan bahwa konflik ini bisa berujung pada kejatuhan sistem pemerintahan ulama di Iran. Namun usai kesepakatan damai, Trump menyatakan tidak ingin melihat “pergantian rezim” di Iran, karena akan membawa kekacauan saat stabilitas justru dibutuhkan.
Kelegaan dan Kecemasan
Di Teheran maupun Tel Aviv, warga menyambut gencatan senjata dengan perasaan lega bercampur cemas.
“Kami kembali setelah pengumuman gencatan. Orang-orang lega karena perang telah usai, tapi tetap ada ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi,” kata Farah (67), warga Teheran yang sebelumnya mengungsi ke Lavasan.
Di Tel Aviv, Rony Hoter-Ishay Meyer (38) mengaku lega namun kelelahan. “Dua minggu terakhir sungguh kacau. Kami sangat lelah dan ingin kembali ke energi normal.”

