Yield USTreasury 10 Tahun Naik Jelang Rilis Data Ekonomi AS
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun naik pada Senin (10/02/2025). Investor menantikan beberapa data ekonomi utama pekan ini, termasuk angka inflasi konsumen terbaru, serta bersiap menghadapi pengumuman tarif baru.
Baca Juga
Investor Pertimbangkan Dampak Tarif Trump, Yield USTreasury 10-Tahun Turun
Imbal hasil obligasi 10 tahun naik hampir dua basis poin menjadi 4,503%, sementara imbal hasil obligasi 2 tahun berada sedikit di bawah garis datar di 4,277%.
Investor menunggu beberapa rilis data ekonomi pekan ini, dengan laporan inflasi Januari dijadwalkan rilis pada Rabu pagi waktu AS. Data ini akan memberikan wawasan apakah Federal Reserve semakin mendekati targetnya untuk menurunkan inflasi AS ke tingkat tahunan 2%. Data ini akan diikuti oleh indeks harga produsen (PPI) Januari, yang mengukur harga grosir, serta klaim pengangguran awal mingguan pada Kamis, dan data penjualan ritel Januari pada Jumat.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan bersaksi di hadapan Kongres pada Selasa dan Rabu, dan investor akan mencermati pernyataannya untuk mencari petunjuk mengenai keputusan kebijakan moneter di masa depan.
Baca Juga
Powell Sebut Bank Sentral Tak Terburu-buru Pangkas Suku Bunga Lagi
Kesaksian Powell datang di tengah ketidakpastian di Washington, dengan Presiden Trump mendukung tarif terhadap mitra dagang AS serta pesan-pesan yang beragam dari pemerintahannya terkait pendekatan terhadap The Fed.
Presiden mengatakan kepada wartawan pada Minggu bahwa AS akan mengenakan tarif 25% pada semua impor baja dan aluminium, serta akan memberlakukan tarif balasan terhadap negara-negara yang mengenakan pajak pada impor AS.
Komentar ini muncul saat tarif Trump yang sebelumnya diumumkan terhadap China dijadwalkan mulai berlaku pada Minggu malam.
Baca Juga
Eskalasi Baru Perdagangan AS, Trump Bakal Kenakan Tarif 25% untuk Baja dan Aluminium
"Tarif yang tinggi dan ketidakpastian kebijakan yang meningkat dapat mendorong bisnis untuk semakin menerapkan pendekatan wait-and-see serta mengurangi perekrutan," kata Lydia Boussour, ekonom senior di EY-Parthenon, seperti dikutip CNBC. Hal ini dapat menyebabkan perlambatan pekerjaan yang lebih parah, pendapatan yang lebih lemah, dan pengeluaran konsumen yang terbatas di tengah inflasi yang jauh lebih tinggi.

