Investasi China di AS Anjlok Sejak Jabatan Pertama Trump, Ini Penyebabnya
NEW YORK, investortrust.id - Investasi China di Amerika Serikat telah menurun drastis sejak masa jabatan pertama Donald Trump. Tren ini diperkirakan tidak akan berubah setelah Trump kembali ke Gedung Putih.
Trump telah mengancam akan memberlakukan tarif tambahan pada barang-barang China segera setelah pelantikannya pada Senin (20/1/2025), memperkuat sikap AS yang semakin tegas terhadap Beijing.
Baca Juga
Trump Akan Kenakan Tarif Tambahan 10% untuk China, 25% untuk Kanada dan Meksiko
“Itu mungkin hal terakhir yang ada di pikiran Trump, mencoba memberikan insentif kepada [perusahaan China] untuk berinvestasi di sini,” kata Rafiq Dossani, seorang ekonom di lembaga think tank RAND yang berbasis di AS, seperti dikutip CNBC.
“Ada ketidaksesuaian ideologis. Semua retorika adalah untuk menjauhkan China dari AS, biarkan produk mereka masuk, tetapi hanya yang berkategori rendah,” katanya dalam sebuah wawancara awal bulan ini.
Dalam beberapa minggu terakhir, perusahaan properti raksasa dari Uni Emirat Arab, Damac, telah menjanjikan investasi senilai $20 miliar untuk membangun pusat data di AS. Sementara itu, CEO SoftBank Masayoshi Son mengumumkan rencana investasi senilai $100 miliar untuk pengembangan kecerdasan buatan di AS selama masa jabatan empat tahun Trump.
Investasi China di Amerika Serikat telah melambat secara drastis, menurut data terbaru dari American Enterprise Institute. Pada paruh pertama tahun 2024, hanya $860 juta yang mengalir ke AS, menyusul $1,66 miliar pada 2023. Angka ini menurun tajam dibandingkan puncaknya pada 2017, ketika total investasi mencapai $46,86 miliar di awal masa jabatan pertama Donald Trump.
Pada masa puncak tersebut, perusahaan-perusahaan Tiongkok melakukan akuisisi besar-besaran, seperti pembelian hotel Waldorf Astoria di New York. Namun, regulasi dari kedua negara telah membatasi aliran investasi ini.
“Investasi China di AS telah melambat secara signifikan sejak Beijing memperketat kontrol atas aliran modal keluar pada 2017, diikuti dengan serangkaian kebijakan regulasi di AS yang bertujuan untuk membatasi investasi di sektor-sektor tertentu,” kata Danielle Goh, analis senior di Rhodium Group, melalui email.
Baca Juga
Dalam waktu dekat, Goh tidak memperkirakan investasi Tiongkok di AS akan kembali ke puncak seperti periode 2016–2017. Sebaliknya, perusahaan China lebih memilih untuk berinvestasi melalui usaha patungan kecil atau investasi hijau (greenfield), di mana bisnis dibangun dari awal.
Contohnya, perusahaan baterai Cina EVE Energy menjadi mitra teknologi dengan saham 10% dalam usaha patungan bersama divisi Accelera milik perusahaan mesin AS Cummins, Daimler Truck, dan PACCAR. Pada Juni 2024, mereka mengumumkan rencana membangun pabrik baterai di Mississippi yang dijadwalkan mulai produksi pada 2027 dan menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja.
Regulasi dan Pandangan Lokal
Sejak pandemi Covid-19, Kamar Dagang AS-Cina lebih banyak membantu perusahaan e-commerce Cina mendirikan kantor lokal daripada membangun bisnis manufaktur, kata presiden organisasi nirlaba itu, Siva Yam.
“Kebanyakan investasi sekarang cenderung lebih kecil, sehingga tidak menarik perhatian besar dan lebih mudah mendapatkan persetujuan,” ujarnya. Namun, Yam tetap meragukan apakah investasi tersebut dapat mengimbangi dampak tarif.
Negara-negara bagian AS juga semakin waspada terhadap investasi Cina. Pada musim semi lalu, Politico melaporkan bahwa lebih dari 20 negara bagian memberlakukan atau memperbarui pembatasan pembelian tanah oleh warga dan perusahaan Cina.
Selain itu, serangan siber yang dilakukan peretas Cina pada Desember lalu menargetkan kantor pemerintah AS yang meninjau investasi asing. CNN melaporkan ini sebagai bagian dari pelanggaran lebih luas terhadap Departemen Keuangan AS.
Strategi Trump
Donald Trump mengisyaratkan bahwa tarif mungkin digunakan untuk memaksa investasi Cina di AS. Dalam pidatonya menerima pencalonan dari Partai Republik, Trump berkata:
“Saya akan membawa kembali pekerjaan di sektor otomotif ke negara kita melalui penggunaan pajak, tarif, dan insentif yang tepat, serta tidak akan membiarkan pabrik besar dibangun di Meksiko, Cina, atau negara lain.”
Menurut NBC News, Trump juga menambahkan bahwa perusahaan asing harus memproduksi produk mereka di AS untuk dijual di pasar Amerika.
Perusahaan baterai besar Cina, CATL, dilaporkan pada November menyatakan akan membangun pabrik di AS jika diizinkan oleh Trump.
Namun, beberapa pihak mencatat ketidakpastian kebijakan Trump. Advocacy group Center for American Progress menyoroti bahwa selama masa jabatan pertamanya, Trump membatalkan pembatasan terhadap perusahaan telekomunikasi Cina, ZTE, hanya beberapa hari setelah pemerintah dan bank-bank Cina menginvestasikan $1 miliar dalam taman hiburan yang terkait dengan Trump Organization di Indonesia.
Derek Scissors, senior partner di American Enterprise Institute, menunjukkan bahwa investasi besar membutuhkan proses jangka panjang dan tidak akan terjadi secara instan. Dia juga menambahkan bahwa kebijakan Trump sulit diprediksi.
“Pernyataan Trump bahwa AS terbuka bagi perusahaan Cina pada 2025 bukan jaminan bagi 2029,” katanya.

