AS Kembali Veto Resolusi Gencatan Senjata di Gaza, Ini Alasannya
WASHINGTON, investortrust.id - Amerika Serikat (AS) kembali memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata permanen tanpa syarat di Jalur Gaza.
Baca Juga
Ribuan Orang Unjuk Rasa di Brussels, Tuntut Gencatan Senjata di Gaza dan Lebanon
“Amerika Serikat bekerja selama berminggu-minggu dengan itikad baik untuk menghindari hal ini,” kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood setelah pemungutan suara. “Kami telah menegaskan selama perundingan, kami tidak dapat mendukung gencatan senjata tanpa syarat yang gagal membebaskan para sandera, karena, seperti yang telah diserukan oleh dewan ini sebelumnya, akhir perang yang bertahan lama harus dicapai dengan pembebasan para sandera. Kedua tujuan mendesak ini saling terkait erat,” jelas Wood, seperti dikutip VOA.
Ini merupakan veto AS yang keempat terhadap Gaza sejak perang antara Israel dan Hamas dimulai 14 bulan lalu.
AS memveto resolusi pada Oktober 2023, Desember 2023, dan Februari 2024, serta menyatakan abstain dalam pemungutan suara pada rancangan resolusi lainnya.
Baca Juga
DK PBB yang memiliki 15 anggota, awalnya sudah menyepakati draf resolusi yang diajukan 10 negara anggota tidak tetap. Mereka meminta gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen dalam pertemuan yang telah berlangsung hampir 13 bulan. Selain itu, resolusi menegaskan kembali tuntutan pembebasan segera dan tanpa syarat semua sandera, sambil mendesak DK PBB memenuhi tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
Resolusi tersebut menyoroti pula krisis kemanusiaan yang memburuk serta menuntut agar penduduk sipil di Jalur Gaza dapat segera dibukakan akses ke layanan dasar dan bantuan kemanusiaan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka.
Rancangan resolusi DK PBB juga menolak "segala upaya untuk membuat warga Palestina kelaparan" dan menyerukan fasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan secara penuh, cepat, aman, dan tanpa hambatan dalam skala besar ke dan di seluruh Jalur Gaza.
Dengan mendesak semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional, khususnya mengenai perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil, resolusi tersebut juga menuntut penerapan Resolusi Dewan Keamanan 2735, yang mencakup ketentuan mengenai sandera, tahanan Palestina, dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Resolusi itu juga meminta laporan dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengenai penerapannya dan penilaian kebutuhan komprehensif untuk Gaza dalam waktu 90 hari.
Berbahaya
Menurut Wakil Utusan AS untuk PBB Robert Wood, Washington tidak bisa mendukung gencatan senjata tanpa mensyaratkan pembebasan warga Israel yang disandera oleh kelompok pejuang Palestina, Hamas.
Ia menegaskan bahwa perang harus diakhiri dengan pembebasan para sandera.
"Sederhananya, resolusi ini akan mengirimkan pesan yang berbahaya kepada Hamas: Tidak perlu kembali ke meja perundingan," ujar Wood, yang menuding bahwa Hamas menolak kesepakatan gencatan senjata.
Teks tersebut dirancang dan diajukan oleh 10 anggota terpilih Dewan Keamanan, menyuarakan frustrasi yang meningkat selama beberapa bulan terakhir terhadap ketidakmampuan dewan untuk mengambil tindakan tegas guna mengakhiri perang dan membebaskan sandera yang ditahan oleh Hamas.
Respons Palestina
Argumentasi AS dibantah utusan Palestina. "Resolusi ini berusaha memulihkan kehidupan, menyelamatkan nyawa. Ini bukan pesan berbahaya," kata Wakil Duta Besar Palestina, Majed Bamya, kepada dewan.
"Draf resolusi ini bukanlah pesan berbahaya. Veto ini adalah pesan berbahaya kepada Israel bahwa mereka dapat terus melaksanakan rencana mereka.Israel bertanggung jawab atas warga sipil Palestina yang dibunuhnya. Israel tidak bisa dibebaskan dari tanggung jawab itu."
Utusan Palestina mengatakan bahwa meskipun gencatan senjata yang diusulkan tidak akan menyelesaikan semuanya, itu akan menjadi langkah awal, dan memvetonya tidak dapat dibenarkan ketika kekejaman sedang terjadi.
Baca Juga
Gencatan Senjata Gaza Buntu, Hamas: Netanyahu Harus Bertanggung Jawab
"Saya benar-benar tidak mengerti, Anda mengatakan kami tidak bisa mendukung gencatan senjata tanpa syarat," kata Bamya dengan nada emosional. "Apa artinya sekarang adalah bahwa kami mendukung perang. Anda mengatakan kami tidak bisa mendukung gencatan senjata tanpa syarat yang tidak membebaskan sandera. Apakah perang ini membebaskan sandera? Apakah itu? Apakah itu bahkan berusaha membebaskan sandera?"
Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon mengatakan bahwa teks yang diusulkan akan mengirimkan pesan bahwa teroris dapat bertindak tanpa konsekuensi.
"Resolusi yang diajukan ke dewan ini bukanlah jalan menuju perdamaian; itu adalah peta jalan menuju lebih banyak teror, lebih banyak penderitaan, dan lebih banyak pertumpahan darah," kata Danny Danon. "Banyak dari Anda mencoba meloloskan ketidakadilan ini. Kami berterima kasih kepada Amerika Serikat karena menggunakan hak veto mereka, berdiri di pihak moralitas dan keadilan, serta menolak meninggalkan para sandera dan keluarga mereka."

