Inflasi Masih Tinggi, Bank Sentral Austalia Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga
JAKARTA, Investortrust.id – Laju inflasi yang masih tinggi menjadi pertimbangan Bank Sentral Australia (RBA) untuk menaikkan suku bunga. Namun, kenaikan bunga itu belum direalisasikan.
Baca Juga
Cermati Data Tiongkok dan Australia, Mayoritas Pasar Asia Menguat
Bank Sentral Australia mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan moneter pada 3 Oktober, namun akhirnya memilih untuk mempertahankan suku bunga pinjaman acuan pada 4,1%.
Dalam risalah rapat yang dirilis oleh Reserve Bank of Australia, anggota dewan mencatat bahwa inflasi masih jauh di atas targetnya sebesar 2% hingga 3%, dan “diperkirakan akan terus berlanjut untuk beberapa waktu.”
Inflasi harga jasa masih tinggi, dan kenaikan harga bahan bakar menambah inflasi umum.
Di sisi lain, anggota dewan mengakui pasar tenaga kerja Australia telah mencapai “titik balik” dan pertumbuhan output telah melambat.
“Pengetatan kebijakan moneter sejak Mei 2022 masih meresap ke seluruh perekonomian dan akan memakan waktu lama agar dampak penuhnya dapat terlihat dalam data,” demikian disebut dalam risalah, seperti dikutip dari CNBC internasional, Selasa (17/10/2023).
.
Mengingat argumen kedua belah pihak, RBA menyimpulkan tidak ada cukup informasi baru dari pasar keuangan atau data ekonomi untuk menyesuaikan kebijakan moneternya pada bulan Oktober.
Serangkaian perkiraan staf baru dan data ekonomi tambahan akan dirilis menjelang pertemuan kebijakan moneter berikutnya pada 3 November, yang akan memberikan lebih banyak informasi kepada dewan.
Angka pengangguran Australia untuk bulan September akan dirilis pada hari Kamis, sedangkan data indeks harga konsumen akan diumumkan pada tanggal 25 Oktober.
Australia tidak mengubah target suku bunga selama empat pertemuan berturut-turut, setelah menaikkan suku bunga sebesar 400 basis poin sejak Mei tahun lalu ke level tertinggi dalam 11 tahun.
Dolar Australia sedikit menguat pada hari Selasa, diperdagangkan pada 0,6347 melawan greenback.
Baca Juga
