Korban Tewas Konflik Palestina-Israel Sudah 25 Ribu Lebih, Netanyahu Tuduh Qatar Biayai Organisasi Hamas
YERUSALEM, investortrust.id – Pemerintahan Palestina mengatakan, setidaknya 25.700 orang tewas dan lebih dari 63.000 terluka dalam serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023, sedangkan serangan Hamas kepada Israel menewaskan sekitar 1.140 orang, Kamis (25/1/2024).
Dalam pertemuan pekan ini dengan keluarga tawanan yang ditahan di Gaza, Netanyahu menyalahkan Qatar atas pembiayaan mereka pada Hamas dan mengatakan ia kesal dengan keputusan Amerika Serikat untuk memperpanjang keberadaan pangkalan militer di negara Teluk, menurut saluran berita Israel Channel 12.
“Pernyataan ini jika terbukti, tidak bertanggung jawab dan merusak upaya untuk menyelamatkan nyawa yang tidak bersalah, tetapi tidak mengejutkan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, dalam sebuah postingan di X (dulunya Twitter), Rabu (24/1/2024).
Seperti dilansir dari Aljazeera.com, Qatar mengecam Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu setelah ia diduga mengkritik peran negara Teluk sebagai mediator dalam perang Gaza sebagai “problematis”.
Qatar, bersama Mesir, telah berulang kali terlibat dalam negosiasi untuk memediasi gencatan senjata di Gaza dan memastikan masuknya bantuan kemanusiaan kesana. Pada November 2023, Qatar membantu mengamankan jeda peperangan selama seminggu di mana lebih dari 100 tawanan dibebaskan sebagai imbalan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Baca Juga
Indonesia Mengutuk Keras Serangan Israel terhadap Fasilitas PBB di Gaza
Negara Teluk, dalam hal ini Qatar, tetap terlibat dalam pembicaraan yang bertujuan untuk mengamankan kesepakatan baru untuk pembebasan sekitar 130 tawanan yang masih ditahan oleh Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya.
Al-Ansari mengatakan, komentar yang “bocor” dari Netanyahu merugikan upaya tersebut. “Jika pernyataan yang dilaporkan ditemukan benar, PM Israel hanya akan menghalangi dan merusak proses mediasi, karena alasan yang tampaknya melayani karier politiknya daripada memprioritaskan menyelamatkan nyawa yang tidak bersalah, termasuk sandera Israel,” lugasnya.
Israel Tidak Menaruh Rasa Hormat pada Negara Teluk
Netanyahu, dalam pernyataannya yang diduga bocor, memberitahu keluarga tawanan bahwa ia sengaja tidak berterima kasih kepada Qatar atas upayanya dalam mediasi, dengan mengklaim bahwa hal itu dapat menempatkan lebih banyak tekanan pada Hamas.
“Anda tidak mendengar saya berterima kasih kepada Qatar… Yang pada dasarnya tidak berbeda dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Palang Merah, dan bahkan lebih problematis. Saya tidak akan menghormati mereka (Qatar),” kata Netanyahu dalam rekaman yang diperoleh dari Channel 12.
Baca Juga
Militer Israel Serang UNRWA, PBB : Israel Lecehkan Aturan Dasar Perang
“Mereka memiliki cara untuk memberikan tekanan (kepada Hamas). Dan mengapa? Karena mereka (Qatar) membiayai Hamas,” tambah Netanyahu.
Stefanie Dekker dari Aljazeera.com, melaporkan dari Yerusalem Timur yang diduduki Israel, bocornya informasi dari kantor Netanyahu “biasanya tidak kebetulan” dan “biasanya dilakukan untuk alasan politik – alasan dibalik semua itu patut dipertanyakan”.
“Netanyahu sedang di bawah tekanan dari ‘semua pihak’, baik di dalam dan luar negeri, serta dari orang-orang di jalanan (pengunjuk rasa) untuk melakukan lebih banyak terhadap pembebasan tawanan,” ucap Dekker di Yerusalem Timur, Kamis (25/1/2024).
Profesor dari Universitas Qatar, Hassan Barari mengatakan kepada Aljazeera.com, kritik Netanyahu terhadap upaya mediasi Qatar yang diduga merupakan refleksi frustrasi atas kegagalannya dalam perang. “Qatar sudah banyak sekali turun tangan (atas peperangan ini), dan Qatar telah berhasil memediasi antara Israel dan Hamas,” jelas Barari yang menyebut komentar Netanyahu sebagai tanda “putus asa”.
“Netanyahu ingin semua orang melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Dia gagal di medan perang, dia gagal meyakinkan rakyatnya bahwa dia melakukan hal yang benar, dan dia ingin menyalahkan orang lain dan melemparkan tanggung jawab atas kegagalannya pada Qatar,” imbuh Barari.
Baca Juga
UE : Israel Tak Bisa Halangi Palestina Tentukan Nasib Sendiri
Qatar, yang telah menjadi tuan rumah kepemimpinan politik Hamas, dalam beberapa tahun terakhir telah mengirimkan jutaan dolar bantuan ke Jalur Gaza yang dikelola Hamas bekerja sama dengan pemerintah Israel guna mencoba dan menjaga situasi di sana agar “tidak meledak”, karena pembatasan dan blokade,” lapor Dekker dari Yerusalem Timur.
Israel memberlakukan blokade di Jalur Gaza pada tahun 2007, membatasi dan mengontrol lalu lintas warga serta barang masuk dan keluar wilayah pesisir tersebut.
Menanggapi komentar al-Ansari, Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich menuduh Qatar mendukung “terorisme”.
“Qatar adalah negara yang mendukung terorisme dan membiayai terorisme. Dia (Qatar) adalah pelindung Hamas dan sangat bertanggung jawab atas pembantaian yang dilakukan oleh Hamas terhadap warga Israel,” tulis Smotrich di media sosial X.
Baca Juga
Tragedi Kemanusiaan: 335 Ribu Balita di Palestina Makan Pakan Hewan!
Anggota koalisi pemerintahan sayap kanan Netanyahu itu telah mendorong eskalasi perang di Gaza, dan minggu ini PM Israel menolak proposal Hamas untuk mengakhiri konflik dan membebaskan tawanan sebagai imbalan menarik pasukan Israel, membebaskan tahanan dan menerima pemerintahan kelompok bersenjata di Gaza.

