Timur-Tengah Memanas, Minyak WTI Malah Anjlok di Bawah $75. Kok Bisa?
NEW YORK, investortrust.id - Minyak mentah berjangka AS pada hari Selasa (30/7/2024) turun ke level terendah sejak awal Juni. Kekhawatiran terhadap perekonomian Tiongkok menutupi babak baru eskalasi di Timur Tengah.
Baca Juga
Israel Tembaki Hizbullah Setelah Serangan Roket dari Lebanon
“Pertimbangan makroekonomi terus membentuk sentimen investor dan minyak merosot melalui dukungan teknis seperti pisau panas menembus mentega,” komentar Tamas Varga, analis di broker minyak PVM, dalam catatannya, seperti dikutip CNBC.
“Gejolak perekonomian Tiongkok, termasuk pertumbuhan yang lamban dan menurunnya impor minyak mentah, masih menjadi kekuatan pendorong utama bagi pasar,” kata Varga.
Berikut harga energi penutupan hari Selasa:
• Kontrak West Texas Intermediate September: $74,73 per barel, turun $1,08, atau 1,42%. Tapi, minyak mentah AS telah naik 4,3% ytd (year to date).
• Kontrak Brent bulan September: $78.63 per barel, turun $1.15, atau 1.44%. Minyak global naik 2% ytd.
• Kontrak RBOB Gasoline bulan Agustus: $2.38 per galon, turun hampir 3 sen, atau 1.17%. Sedangkan, harga bensin telah naik 13.5% ytd.
• Kontrak Gas Alam bulan September: $2,12 per seribu kaki kubik, naik 9 sen, atau 4,42%. Gas naik 5,4% ytd.
Sementara itu, di Timur Tengah, ketegangan meningkat antara Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Iran, setelah sebuah roket yang ditembakkan dari Lebanon menewaskan 12 anak di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.
Militer Israel membalas pada hari Selasa dengan serangan udara di pinggiran selatan Beirut, menargetkan seorang komandan yang mereka klaim bertanggung jawab atas serangan roket tersebut.
Para pejabat Israel mengatakan kepada Reuters pada hari Senin bahwa Israel ingin menargetkan Hizbullah, namun menghindari perang habis-habisan.
Baca Juga
Dibayangi Kekhawatiran Permintaan China, Minyak Anjlok Lebih dari 1%

