Gagal Rebound, Indeks Dow Jones Kembali Terkoreksi 0,2%
NEW YORK, Investortrust.id – Pasar Wall Street masih belum bertenaga pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis (28/9/2023).
Baca Juga
Wall Street Terpuruk, Indeks Dow Jones Terperosok Hampir 400 Poin
Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir, melanjutkan penurunan tajam dari sesi sebelumnya. Pemicunya, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan harga minyak.
Baca Juga
Dipicu Ekspektasi Pasokan yang Lebih Ketat, Harga Minyak Naik Hampir 1%
Indeks Dow, yang berisikan 30 saham unggulan, turun 68,61 poin atau 0,20% menjadi 33.550,27. Pada sesi awal, indeks sempat naik sebanyak 112,77 poin.
Indeks S&P 500 naik tipis 0,02% menjadi 4,274.51, sedangkan Nasdaq Composite bertambah 0,22% dan mengakhiri sesi pada 13,092.85.
Imbal hasil Treasury 10-tahun yang menjadi acuan mencapai level tertinggi sejak 2007. Imbal hasil Treasury 2-tahun juga naik. Sementara itu, minyak mentah berjangka AS melonjak lebih dari 3% menjadi $ 93,68 per barel.
Baca Juga
Imbal Hasil Obligasi AS 10-Tahun Capai Level Tertinggi dalam 16 Tahun
Energi adalah sektor dengan kinerja terbaik, naik 2,5%. Perusahaan yang memperoleh keuntungan besar termasuk Marathon Oil dan Devon Energy, keduanya naik lebih dari 4%.
Indeks S&P 500 pada hari Selasa turun di bawah level penting 4.300 untuk pertama kalinya sejak Juni. Dow juga mencatat kerugian satu hari terbesar sejak Maret, turun lebih dari 300 poin hingga ditutup di bawah rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak Mei.
Saham-saham mendapat tekanan baru-baru ini akibat kenaikan suku bunga dan data ekonomi yang mengecewakan.
“Inflasi masih menjadi perhatian utama,” kata Greg Bassuk, CEO AXS Investments, seperti dikutip CNBC internasional. “Investor sangat cemas tidak hanya mengenai kenaikan suku bunga, tapi juga bagaimana hal itu berdampak pada perusahaan dengan biaya pinjaman yang lebih tinggi.”
September adalah bulan yang lemah secara musiman untuk saham. Indeks S&P 500 turun 5% bulan ini, sedangkan Dow turun lebih dari 3%. Nasdaq yang paling parah di antara ketiganya, kehilangan lebih dari 6% bulan ini.
Bassuk memperkirakan volatilitas akan terus berlanjut dalam beberapa minggu mendatang. Namun, dia memperkirakan akan ada peluang pembelian yang kuat di bulan Oktober menjelang akhir tahun.
Baca Juga
The Fed Pertahankan Suku Bunga, Indikasikan Masih Ada Kenaikan Tahun Ini
