Hindari Kecurangan, Pelaku Asuransi India Minta Standarisasi Tarif Rumah Sakit
JAKARTA, investortrust.id - Lini bisnis asuransi kesehatan di India mencatatkan kenaikan ticket size atau premi hampir 48% dalam enam tahun belakangan. Pelaku industri asuransi di India pun meminta standarisasi tarif dan transparansi rumah sakit untuk menghindari kecurangan.
Melansir Rediff, Sabtu (6/7/2024), Presiden Bisnis Ritel HDFC ERGO General Insurance, Parthanil Ghosh berharap adanya moderasi dalam tarif premi asuransi kesehatan berdasarkan tindakan, untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi potensi kecurangan yang akan timbul.
“Peraturan yang menguntungkan seperti cashless everywhere, yang bertujuan untuk mengurangi penipuan dan mendorong transparansi antara RS, perusahaan asuransi, dan standarisasi tarif prosedur, akan menghasilkan pengurangan biaya tambahan,” ujarnya,
Sebagai informasi, kenaikan premi asuransi kesehatan di India disebabkan oleh peningkatan inflasi medis, serta permintaan masyarakat yang semakin besar untuk polis asuransi kesehatan bercakupan lebih tinggi.
Data Pialang Asuransi daring PolicyBazaar menunjukan, premi rata-rata asuransi kesehatan ritel di India meningkat menjadi Rs 26.533 atau setara Rp 5,17 juta hingga saat ini, naik 48,22% dibanding tahun 2019 yang tercatat Rs 17.900 atau Rp 3,49 juta.
“Kenaikan rata-rata premi bisa jadi karena inflasi medis di negara ini yang sekitar 14% hingga 15%, dan perusahaan asuransi kesehatan menyiasatinya dengan menaikkan premi,” kata Kepala Bisnis Asuransi Kesehatan PolicyBazaar, Siddharth Singhal.
Kemudian, lanjutnya, semakin banyak orang India yang membeli polis jangka panjang karena memperkirakan mereka akan menanggung beban jangka panjang.
Inflasi medis di India menurut laporan Insurtech Plum, meningkat sekitar 14%. Hal ini menimbulkan tekanan keuangan individu yang menanggung sendiri biaya perawatan kesehatan mereka.
“Selain biaya layanan kesehatan, perawatan, dan pengobatan, pengenalan teknologi dan perawatan baru menyebabkan biaya layanan kesehatan menjadi lebih tinggi,” ujar, Kepala Tim Administrasi Kesehatan Bajaj Allianz General, Bhaskar Nerurkar.
Usai pandemi covid-19, asuransi kesehatan telah mendominasi pangsa pasar gross direct premium underwritten (GDPI) atau premi langsung bruto keseluruhan perusahaan asuransi umum di India, menyalip segmen asuransi kendaraan bermotor.
Pada Januari 2020, asuransi kesehatan menyumbang pangsa sekitar 26,5% dari total premi industri asuransi umum di India, sementara asuransi kendaraan bermotor menggenggam market share 36,1%. Kemudian, per Januari 2024, porsi lini asuransi kesehatan naik menjadi 37,72%, sementara asuransi kendaraan bermotor turun menjadi 30,95% dari total premi.

