Tembaga Berpotensi Paling 'Bullish' di Paruh Kedua Tahun 2024
JAKARTA, investortrust.id - Para pelaku industri dan analis pada pekan ini memproyeksikan tembaga akan menjadi logam dasar dengan potensi bullish paling besar pada paruh kedua tahun ini, menhyusul terbatasnya pasokan bahan mentah di tengah peningkatan permintaan China.
Melansir dari ZAWYA pada Senin (1/7/2024), harga acuan tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) mencapai rekor tertinggi di atas US$ 11.100 per metrik ton pada 20 Mei 2024, melonjak hampir 25% hanya dalam tujuh pekan, karena arus masuk dana yang optimistis pada penggunaan tembaga di transisi energi hijau dan adanya langkah short squeeze di bursa CME AS.
Co-head Pan Asia Metals & Mining di Citi Research, Jack Shang mengatakan, pada Juni ia kerap menerima pertanyaan soal potensi tembaga dari investor. Bahkan pertanyaan tersebut datang sebanyak dua hingga tiga kali dalam sehario pada bulan Juni lalu.
"Soal apa saja tentang tembaga dan ekuitas apa yang akan diinvestasikan. Sejak itu, sentimen sedikit mereda, namun saya masih menerima pertanyaan-pertanyaan,” kata Shang seperti dikutip Reuters, Jumat.
Baca Juga
Harga Tembaga Melambung Balapan dengan Emas, Siapa Konglomerat Diuntungkan?
Citi, kata Shang, memperkirakan harga tembaga akan terakumulasi menjadi sekitar US$ 9.500 hingga kuartal ketiga dan dapat mencapai US$ 12.000 sekitar akhir tahun hingga kuartal pertama tahun depan.
Pada seminar yang diselenggarakan oleh LME pada hari Kamis, 51% audiens memilih tembaga sebagai logam dengan potensi kenaikan terbesar pada semester kedua, diikuti oleh aluminium dan nikel masing-masing sebesar 16%.
Adapun yang mendukung tren bullish tembaga adalah berlanjutnya ketatnya pasar bahan baku dan ekspektasi bahwa pabrik peleburan tembaga akan memangkas produksi.
Seorang analis di SMM, Wang Yanchen menyebut, pasar konsentrat dan bijih tembaga dapat mengalami defisit sekitar setengah juta ton pada tahun 2025, melebar dari perkiraan defisit 200.000 ton tahun ini.
Baca Juga
Kemendag Tetapkan Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga dan Seng Naik pada April 2024
Pada hari Kamis, penambang Chili Antofagasta menyetujui biaya pengolahan tembaga (TC) dengan pabrik peleburan Cina sebesar US$ 23,25 per ton, penurunan tajam dari patokan tahunan 2024 sebesar US$ 80 per ton yang disepakati pada bulan November tahun lalu.
Pasokan konsentrat tembaga yang rendah biasanya berarti penurunan TC sehingga merugikan keuntungan pabrik peleburan.
Pabrik-pabrik peleburan besar di China sejauh ini belum memangkas produksinya karena lebih banyak pasokan potongan tembaga, didorong oleh harga yang lebih tinggi, menggantikan sebagian kebutuhan akan konsentrat, dan pabrik-pabrik peleburan masih mendapatkan keuntungan dari pasokan pakan sebesar US$ 80 dalam kontrak jangka panjang, kata para analis.
Di sisi lain, Kepala Penelitian Bisnis Internasional di Horizon Insights, dalam seminar LME membeberkan, namun pasokan barang bekas semakin terbatas, sementara pengurangan stok tembaga olahan dapat terjadi pada bulan Juli ketika permintaan di China mungkin meningkat.

