Anggota Kabinet Israel Ultimatum Netanyahu, Ini Pemicunya
TEL AVIV, investortrust.id - Mantan menteri pertahanan Israel dan anggota kabinet perang Benny Gantz menuntut kabinet menyusun rencana perang melawan Hamas pada 8 Juni.
Baca Juga
Protes Dukungan Washington ke Israel, Perwira Angkatan Darat AS Mundur
Dalam sambutannya di kota Ramat Gan, Sabtu malam waktu setempat, Gantz memperingatkan jika tuntutannya tidak dipenuhi, ia akan mundur dari pemerintahan.
Dia mengatakan rencana tersebut harus melenyapkan Hamas, memulangkan para sandera, membentuk pemerintahan alternatif di Jalur Gaza, membawa kembali penduduk Israel ke wilayah utara Israel, dan menyiapkan rencana untuk membuat kemajuan dalam normalisasi hubungan dengan Arab Saudi.
Gantz mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu harus memilih antara “kemenangan atau bencana” saat ia mengeluarkan ultimatum.
“Jika (Netanyahu) memilih untuk memimpin negara ini ke dalam jurang kehancuran, kami akan menarik diri dari pemerintahan, beralih ke rakyat, dan membentuk pemerintahan yang dapat menghasilkan kemenangan nyata,” kata Gantz, dikutip dari CNN.
Tuntutan Rencana
Ultimatum Gantz muncul beberapa hari setelah Menteri Pertahanan Yoav Gallant secara terbuka menuntut rencana pascaperang dan memperingatkan bahwa ia akan menentang pemerintahan Israel di Gaza. Gallant memperingatkan konsekuensi kehadiran militer Israel dalam jangka panjang di Gaza.
Mengenai Rafah, Gantz membela operasi militer Israel di Rafah, dan menyebut kota itu sebagai “gerbang” bagi kebangkitan kembali Hamas. Gantz mengatakan, untuk mencapai perdamaian antara Israel dan Palestina, Hamas tidak bisa tinggal di Gaza dan harus dibersihkan dari Rafah.
Dia mengakui dampak buruk perang terhadap warga sipil, namun menekankan bahwa “ketegasan” diperlukan.
Baca Juga
Desak Pembebasan Sandera, Netanyahu Tingkatkan Tekanan Militer pada Hamas
