Putin Kembalil Tunjuk Mikhail Mishustin Jadi Perdana Menteri
JAKARTA, Investortrust.id - Presiden Rusia Vladimir Putin mengangkat kembali Mikhail Mishustin sebagai perdana menterinya, Jumat (10/5/2024), setelah sebelumnya menjabat sebagai teknokrat rendahan yang menunjukkan Mishustun sebagai personal yang rendah ambisi politiknya.
Sesuai dengan hukum Rusia, Mishustin, 58, yang menjabat selama empat tahun terakhir, mengajukan pengunduran diri pada Selasa (7/5/2024) ketika Putin memulai masa jabatan presiden kelimanya, demikian Time.com.
Pengangkatan kembali Mishustin sejatinya sudah diperkirakan secara luas oleh para pengamat politik, yang mencatat bahwa Putin menghargai keterampilan dan profil politiknya yang tak mentereng. Mishustin yang pernah menjabat sebagai kepala layanan pajak Rusia, selalu menghindari pernyataan politik dan menghindari wawancara media selama masa jabatannya.
Baca Juga
Rusia Uji Coba Sistem Baru untuk Lacak Tautan Kripto ke Fiat
Pengumuman disampaikan Ketua majelis rendah parlemen, Vyacheslav Volodin, dan menyebutkan Putin telah mengajukan pencalonan Mishustin ke Duma, yang akan mengadakan sidang pertimbangan pada Jumat malam.
Berdasarkan perubahan konstitusi yang disetujui pada tahun 2020, majelis rendah menyetujui pencalonan perdana menteri, yang kemudian mengajukan pencalonan anggota Kabinet.
Mishustin dan teknokrat lain di Kabinet dipuji karena mempertahankan kinerja ekonomi yang relatif stabil meskipun mendapat sanksi dari Barat.
Sebagian besar anggota Kabinet juga diperkirakan akan tetap mempertahankan jabatannya dan diharapkan dapat diangkat kembali dalam waktu dekat.
Baca Juga
Rusia Klaim 1.000 Personel Militer Ukraina Tewas dalam 24 Jam Terakhir
Di sisi lain ketidakpastian dialami Menteri Pertahanan Sergei Shoigu setelah penangkapan rekannya Timur Ivanov pada April lalu.
Ivanov, yang menjabat sebagai wakil menteri pertahanan yang bertanggung jawab atas proyek konstruksi militer bernilai miliaran dolar, ditangkap atas tuduhan suap dan ditahan sambil menunggu penyelidikan resmi. Penangkapan Ivanov secara luas ditafsirkan sebagai serangan terhadap Shoigu dan kemungkinan awal pemecatannya meskipun ia memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan Putin.
Shoigu banyak dikritik karena kemunduran militer Rusia pada tahap awal pertempuran di Ukraina. Dia menghadapi serangan pedas dari kepala tentara bayaran Yevgeny Prigozhin, yang sempat melancarkan kudeta singkat ke Moskow pada Juni tahun lalu, untuk menuntut penggulingan Shoigu dan kepala Staf Umum, Jenderal Valery Gerasimov.

