Kekhawatiran terhadap Dampak AI Mencuat di Davos, Ada Apa?
DAVOS, investortrust.id - Para eksekutif global kian mengkhawatirkan kelangsungan bisnis mereka dalam jangka panjang. Kekhawatiran itu mencuat sejalan dengan meningkatnya tekanan dampak negatif kecerdasan buatan generatif alias artificial intelligence(AI) dan gangguan perubahan iklim.
Survei PricewaterhouseCoopers (PwC) yang digelar menjelang pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, mengungkapkan, sekitar 45% dari lebih dari 4.700 CEO global yang disurvei tidak yakin bisnis mereka akan bertahan jika tidak ada perubahan signifikan dalam 10 tahun ke depan.
“Ada 55% yang berpendapat bahwa mereka tidak perlu melakukan perubahan secara radikal. Itu agak naif karena dunia di sekitar mereka berubah begitu cepat,” kata Ketua PwC Global, Bob Moritz kepada Reuters Global Markets Forum (GMF) menjelang pertemuan tahunan WEF di Davos, Senin (15/01/2024) waktu setempat.
Baca Juga
Para Tokoh Penting Dunia Hadiri WEF Davos, Ada Pengusaha Indonesia
Berdasarkan hasil survei tersebut, kemajuan yang dicapai AI generatif menjadi sumber kekhawatiran utama bagi sebagian besar responden. Hampir 75% responden memperkirakan AI akan mengubah bisnis mereka secara signifikan dalam tiga tahun ke depan.
Mayoritas responden memperkirakan AI memerlukan pelatihan keterampilan baru bagi karyawannya. Padahal, banyak di antara mereka mengkhawatirkan risiko keamanan siber, misinformasi, dan bias terhadap kelompok pelanggan atau karyawan tertentu.
“Jika Anda hanya melihat keterampilan yang sama, ya akan ada dampaknya. Makayang Anda butuhkan adalah orang-orang yang lebih terampil,” tutur Juergen Mueller, chief technology officer (CTO) SAP, mengacu pada hilangnya pekerjaan dan pembekuan perekrutan posisi junior di sektor teknologi.
Survei PwC juga menunjukkan, fokus perusahaan pada masalah lingkungan hidup telah menekan margin mereka. Empat dari 10 eksekutif mengaku menerima keuntungan yang lebih rendah untuk investasi ramah iklim.
“Kurang dari 50% yang melaporkan mengalami kemajuan, termasuk risiko iklim dalam perencanaan keuangan perusahaan. Sedangkan 31% lainnya tidak berencana untuk mengimplementasikan hal tersebut,” jelas PwC.
Lebih Optimistis
Secara umum, menurut PwC, perusahaan-perusahaan lebih yakin terhadap gambaran pertumbuhan global. Sekitar 38% optimistis terhadap pertumbuhan, melonjak dua kali lipat lebih dari responden yang disurvei pada 2023.
Namun, jelas PwC, mereka juga kurang yakin terhadap pertumbuhan pendapatan tahun depan. Sebanyak 37% responden yakin terhadap kemampuan mereka untuk meningkatkan pendapatan, turun dibandingkan 42% pada 2023.
“Kemampuan untuk menaikkan suku bunga dan menaikkan harga tidak semudah sebelumnya. Itu akan menjadi tren yang kemungkin akan kita lihat dalam 2-3 tahun ke depan,” papar Bob Moritz.
Baca Juga
Anindya: Setelah Memimpin G20 dan ASEAN, Apa Peran Indonesia di 2024?
Pertemuan tahunan WEF ke-54 di Davos mengusung tema Rebuilding Trust (Membangun Kembali Kepercayaan). Acara yang dibuka pada Senin (15/01/2024) waktu setempat itu akan dihelat hingga Jumat (19/01/2024).
Tema Rebuilding Trust mencakup empat isu utama. Isu pertama adalah mencapai keamanan dan kerja sama di dunia yang terpecah. Isu kedua yaitu menciptakan pertumbuhan dan lapangan kerja untuk era baru.
Adapun isu ketiga adalah kecerdasan buatan (AI) sebagai kekuatan pendorong perekonomian dan masyarakat. Sedangkan isu keempat yaitu strategi jangka panjang untuk iklim, alam, dan energi.
Pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, Klaus Schwab mencoba VR (Virtual Reality) di sela Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2024 di Davos-Klosters, Swiss (15/01/2024). Foto: World Economic Forum/Pascal Bitz.

