Yen Jepang dalam Sorotan Jelang Pertemuan Bank Sentral
JAKARTA, Investortrust.id - Dolar AS dan sebagian besar mata uang utama bergerak stagnan dalam perdagangan awal Senin (18/9/2023), kecuali kenaikan poundsterling, serta hari libur di Jepang dan sejumlah pertemuan bank sentral yang akan digelar, telah menghilangkan kecemasan di pasar.
Pertemuan Bank of Japan pada hari Jumat menjadi sorotan pekan ini di Asia, setelah Gubernur Kazuo Ueda memicu spekulasi Jepang akan segera meninggalkan kebijakan yang sangat longgar. Dalam satu pekan yang padat dengan pertemuan bank sentral, keputusan juga akan diumumkan oleh Federal Reserve Amerika Serikat pada hari Rabu dan Bank of England pada hari Kamis pekan ini.
Yen bergerak stagnan atau terhadap dolar AS di level 147,82 yen per dolar AS, di Tengah penutupan pasar di Jepang karena hari libur nasional. Dalam satu pekan sejak pernyataan Ueda tentang kemungkinan pengurangan suku bunga negatif, nilai yen telah turun sebanyak 1,3% dan mengalami kerugian lebih dari 11% selama tahun 2023.
Carol Kong, ekonom dan ahli mata uang di Bank Commonwealth Australia mengatakan, yen diprediksi akan volatil menjelang pertemuan bank sentral. "Dalam hal arah pergerakan, dolar diperkirakan akan bergerak naik atas nilai tukar yen," kata Kong dilansir CNA, Senin (18/9/2023).
Menurut Kong, para investor sangat mungkin telah salah menginterpretasikan komentar Ueda. Dan periode pelemahan terbaru dalam upah di Jepang serta kemungkinan pelemahan harga juga bisa membuat BOJ menjauh dari tujuannya menekan inflasi, sehingga dorongan untuk kebijakan ketat oleh BOJ bisa jadi masih belum begitu kuat.
"Jadi, itu berarti dolar bisa meningkat atas yen, terutama jika Gubernur Ueda bersikap dovish dan menghilangkan potensi menerapkan kebijakan ketat pada pertemuan yang akan datang," ujarnya.
Indeks dolar sedikit lebih rendah dengan euro yang naik 0,11% menjadi US$1,0667. Sementara poundsterling terakhir diperdagangkan pada US$1,2397, naik 0,06% pada penutupan perdagangan pekan lalu.
Sebagian besar investor mengharapkan perbedaan pertumbuhan ekonomi dan yield akan menjaga dolar tetap tinggi, terutama terhadap euro. Poundsterling telah merosot hampir 6% terhadap dolar sejak pertengahan Juli, sementara euro telah turun lebih dari 5% karena pasar tenaga kerja dan ekonomi Inggris serta ekonomi zona euro yang melambat.
Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga menjadi 4% pekan, dan telah disampaikan bahwa kemungkinan kenaikan tersebut menjadi yang terakhir dilakukan oleh ECB. Sementara itu pasar mata uang Jepang tutup, dan instrumen treasuries tidak diperdagangkan pada hari Senin.

