Investasi 2024, Goldman Sachs Punya Preferensi di Saham dan Obligasi
JAKARTA, Investortrust.id – Atmosfir kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dari The Federal Reserve masih akan berlanjut hingga tahun depan. Dalam situasi tersebut investor masih dapat memanfaatkanpeluang di saham dan obligasi setelah reli terbaru.
Disampaikan Chief Investment Officer Goldman Sachs Asset Management,Ashish Shah, berlanjutnya kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve tahun depanakan membuat investor rentan terhadap potensi gejolak. “Hal ini akan mendorong investor untuk memiliki obligasi dalam portofolio mereka," kata Shah seperti dilansir Thestreets.com, Selasa (7/11/2023).
Salah satu yang menjadi preferensi untuk dijadikan instrumen pilihan di tahun depan, Shah menyebut obligasi korporasi dengan peringkat investasi, yang mampu memberikan returnsekitar 4% hingga 6%. "Anda tidak perlu mengambil risiko yang besar untuk mendapatkan hasil," demikian kata Alexandra Wilson-Elizondo, direktur manajemen multiaset untuk Goldman Sachs Asset Management. "Investor dapat memanfaatkan suku bunga tinggi."
Baca Juga
Transisi Energi Terbarukan, CEO Goldman Sachs Dukung Energi Tradisional
Ketika membahas risiko geopolitik, Shah menyebut pihaknya sangat memperhatikan volatilitas di berbagai wilayah. Kondisi yang volatile ini menurut Shah memberikan keuntungan bagi industri dengan diversifikasi rantai pasokan, dan pada akhirnnya akan memberikan keuntungan bagi negara seperti India dan Jepang.
Tema lain adalah perusahaan yang melakukan diversifikasi usaha dari bahan bakar fosil, ke energi alternatif,. "Di luar itu ada isu keamanan akan menjadi tema yang terus muncul, terutama dalam konteks kecerdasan buatan," katanya.
"Munculnya kecerdasan buatan meningkatkan kemampuan perilaku jahat, yang memerlukan lebih banyak upaya pertahanan bagi perusahaan. Sehingga akan ada peluang materi di sektor pertahanan ini," ujar Shah.
Sementara itu, terkait dengan suku bunga the Fed, Shah memperkirakan kecenderungan kenaikan suku bunga yang dimulai pada Maret 2022 kemungkinan besar sudah berakhir. "Namun, ada ambang batas yang tinggi untuk memulai pemotongan suku bunga. Kemungkinan besar kurva imbal hasil (obligasi) akan menjadi lebih curam,” ujarnya
Kurva imbal hasil yang lebih curam terjadi ketika suku bunga jangka pendek turun dan/atau suku bunga jangka panjang naik. Intinya, "Adaimbal hasil riil sekitar 2%(di atas inflasi)," katanya.
Baca Juga
Dampak Sanksi Ekonomi, Rusia Bekukan Aset Goldman Sachs 36 Juta Dolar AS
Di sisi konsumen, tabungan yang berkurang dan inflasi yang tinggi membuat konsumen cenderung mengurangi pengeluaran mereka. Beberapa perusahaan dapat mengambil manfaat dari hal ini. "Konsumen akan mencari pengalaman saat mencari barang. Mereka kembali ke perilaku normal," kata Shah.
Terkait dengan diversifikasi portofolio, pada basis regionalWilson-Elizondo menyoroti India dan Jepang sebagai target potensial. "Kami mengharapkan lebih banyak perusahaan di India untuk menjadi mitra manufaktur," katanya.
Ada alasan yang kuat untuk menaikkan bobot saham AS jangka pendek, tetapi tidak jangka panjang. Terkait dengan sektor, dia menyukai sektor perawatan kesehatan, farmasi, baja, dan otomotif.
Sementara itu, emas dan komoditas lainnya juga merupakan diversifikasi portofolio yang menarik, demikian disampaikan Elizondo.

