Penyelesaian Utang Evergrande Makin Pelik, Anak Usaha Dilarang Terbitkan Obligasi
JAKARTA, Investortrust.id - Saham grup properti raksasa China, Evergrande Group kembali tergelincir secara berturut-turut dalam dua hari perdagangan Selasa (26/9/2023). Saham Evergrande Group anjlok hingga 8% menyusul salah satu tentakel usahanya yang bergerak di bisnis pengembang gagal membayar obligasi yang jatuh tempo.
Unit usaha domestik Evergrande, Hengda Real Estate Group, dalam pengumuman di bursa saham Shenzhen Senin malam, mengungkapkan bahwa mereka gagal membayar pokok dan bunga senilai 4 miliar yuan (sekitar US$547 juta) yang jatuh tempo pada tanggal 25 September.
Kabar ini datang setelah Evergrande mengumumkan pada akhir pekan lalu bahwa mereka tidak dapat mengeluarkan utang baru karena sedang berlangsung penyelidikan terhadap Hengda, yang mengakibatkan harga saham Evergrande anjlok 22% pada hari Senin (25/9/2023).
Dalam pernyataan tertulisnya Hengda mengatakan bahwa mereka akan aktif bernegosiasi dengan pemegang obligasi dalam upaya mencapai solusi secepat mungkin, sambil berupaya mengatasi risiko utang dan melindungi hak serta kepentingan kreditur, demikian dilansir Channelnewsasia.com.
Kegagalan pembayaran ini merupakan kemunduran baru yang menimpa Evergrande, yang tergelincir dari satu krisis ke krisis lainnya sejak masalah keuangan mereka menguar ke publik pada tahun 2021. Evergrande juga gagal membayar utang luar negerinya pada tahun yang sama. Perusahaan pun telah mencari persetujuan dari para kreditur untuk proposal restrukturisasi utang luar negeri senilai US$31,7 miliar yang mencakup obligasi, jaminan, dan repo obligasi.
Dalam rencana yang diumumkan pada Maret tahun ini, Evergrande mengusulkan berbagai opsi kepada kreditur luar negeri, termasuk menukar sebagian dari kepemilikan utang mereka menjadi obligasi baru dengan jatuh tempo 10 hingga 12 tahun.

