Mengintai Kekuatan Militer Hamas
Seberapa kuat militer Hamas saat ini? Mengutip dari Al Jazeera, Jerusalem Center for Public Affairs dan SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute), Hamas kini mampu merakit sebagian roket-roketnya di dalam negeri, memperdalam riset dan penelitian untuk mengembangkan drone dan bahkan kendaraan bawah air tak berawak.
Meski sebagian besar roket milik Hamas tidak memiliki penuntun sehingga akurasinya lemah, para ahli kini memperkirakan bahwa Hamas mulai mempelajari dan membuat rudal presisi berpermandu GPS dan drone yang lebih cerdas.
Kekuatan pejuang Hamas diperkirakan setidaknya berjumlah 20 ribu hingga 25 ribu personil. Personil militer Hamas dipersenjatai dengan senjata ringan, termasuk roket tak berpemandu, roket berpemandu GPS, rudal anti-tank dan RPG-7V/R, dan kemampuan mortir. Hamas memperoleh senjatanya melalui penyelundupan atau rakitan lokal dan menerima sejumlah dukungan militer dari Iran. Jumlah tentara Hamas ini bisa bertambah dengan mobilisasi massal dari 100 ribu hingga 140 ribu personil.
Senjata yang banyak digunakan oleh Hamas banyak berasal dari Russia, Eropa Timur, China dan beberapa senjata dari negara Barat dengan standard NATO yang diduga merupakan hasil rampasan. Dari China, Hamas melengkapi serdadunya dengan senapan serbu Norinco type 56-1, 56-2, AK-47, AKM, Dragunov buatan Russia dan AK yang berasal dari negara Eropa Timur. Beberapa senjata barat juga nampak dalam foto-foto yang tersebar di dunia maya seperti Heckler & Koch HK21 buatan Jerman, FN-FNC yang merupakan induk dari senapan serbu Pindad SS-1 dan SS-2, Colt Menusar, Colt 653, senapan mesin berat kaliber .30, dan mortar.
Roket roket milik Hamas termasuk dari jenis Fajr-3, Fajr-5, dan M302. Roket-roket Hamas sekilas mirip dengan rudal balistik Fateh-110 buatan Iran yang dapat bergerak di jalan raya dan dapat membawa hulu ledak dengan berat hingga 500 kilogram. Tetapi spesifikasi persis roket milik Hamas ini tidak diketahui.
“Hamas, dengan dukungan logistik Iran dan Hizbullah, telah menguasai seni menyelinap dalam pengiriman penting yang datang dari Libya atau transit melalui Sudan, menggunakan pembayaran tunai dalam jumlah besar kepada suku-suku atau bahkan suap kepada perwira militer Mesir,” pakar Hamas Ahmed Fouad Alkhatib melaporkan pada bulan Juni untuk Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat.
Hamas kini memproduksi sebagian besar senjatanya sendiri, memperluas penelitiannya, mengembangkan drone dan kendaraan bawah air tak berawak, terlibat dalam perang dunia maya, dan hampir beralih dari roket tak terarah ke drone dan rudal presisi berpemandu GPS. Dalam operasi Banjir Al-Aqsa kemarin, Hamas juga meluncurkan infantri dengan paramotor, meski resikonya tinggi karena bisa menjadi sasaran empuk senapan anti pesawat, paramotor ini berhasil masuk ke dalam wilayah Israel dan menimbulkan kerusakan.
Satu video beredar di sosial media saat paramotor Hamas tersangkut kabel listrik tegangan tinggi hingga menyebabkan paramotor itu terbakar. Pasokan suku cadang, bahan baku dan amunisi dari negara-negara pendukung Hamas juga menjadi persoalan tersendiri bagi IDF. IDF mengidentifikasi pangkalan komando angkatan laut Hamas dengan terowongan yang membentang puluhan meter ke laut. Investigasi menunjukkan bahwa dasar pantai yang berisi terowongan itu dibiayai dengan dana yang disedot dari Badan Pembangunan PBB. Selama bertahun-tahun, senjata untuk Hamas telah dijatuhkan ke laut dalam kapsul tertutup, bermil-mil di lepas pantai Gaza.
Selama perang tahun 2021, IDF menghancurkan kendaraan bawah air otonom yang membawa beban 50 kg bahan peledak. IDF mencatat bahwa Hamas memiliki “kapal selam tak berawak yang beroperasi secara mandiri dan bernavigasi menggunakan GPS.” Hamas membentuk unit peperangan elektronik yang berupaya menetralisir sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel dan mengganggu komunikasi IDF.
